Judul: Secangkir Kopi dan Pencakar Langit
Penulis: Aqessa Aninda
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun: 2016
Tebal: 352 Halaman
ISBN: 9786020465678
Blurb:
Satrya nggak munafik, frist impression seorang laki-laki terhadap perempuan pasti tampilan fisik dulu sebelum inner beauty. Namun teori itu terbantahkan ketika Satrya tanpa sengaja meminta bantuan Athaya, seorang IT system analyst yang begitu passionate dengan pofesinya, juga dijaga habis-habisan sama cowok-cowok IT yang pada sayang sama ‘dedek’ mereka ini. Satrya bisa memilih cewek cantik mana saja untuk didekati—penampilan Satrya memang mampu bikin cewek-cewek melirik sekilas kepadanya. Tapi, ia memilih Athaya. Sedangkan Athaya diam-diam sudah lama memendam rasa pada Ghilman. Masalahnya... Ghilman sudah punya pacar.
Di tengah-tengah business district nomor satunya Jakarta, kopi, rokok, meeting, report, after office hour, cowok-cowok dengan kemeja slim fit, kaki jenjang cewek-cewek dengan heels tujuh sentimeter, ada sepotong kisah cinta segitiga antara Athaya, Satrya, dan Ghilman. Siapakah yang akan Athaya pilih? Satrya yang menarik dan fun atau Ghilman yang baik hati serta gestur-nya yang selalu bikin jantung Athaya deg-degan? Benarkah dicintai rasanya lebih menyenangkan daripada mencintai?
_____
“Gue kan cewek. Tinggal jemput bola, tinggal nangkep umpan lambung. Ibarat kembang, tinggal nunggu lebahnya dateng,”—hlm. 149
Satrya. Athaya, dan Ghilman berada di satu perusahaan tapi beda divisi. Berawal dari lirikan, tatapan, curi-curi waktu, hingga benar-benar saling modus dan saling tahu. Usaha Athaya mulai dari yang curi-curi pandang, hingga nekat lari-larian demi bisa satu lift bareng Ghilman bikin kita mengingat masa-masa kasmaran. Satrya juga nggak kalah modusnya, tiap pagi di jam yang sama rela pergi ke pantry dengan alasan nyeduh kopi padahal biar bisa ngobrol sama Athaya, sok modus-modus ngajak makan bareng pula. Ghilman dengan sikap dewasanya, santuy tapi curi start, nih! Dua-duanya bagi Athaya baik, dicintai atau mencintai pun tak masalah. Satrya dan Ghilman pun cukup dewasa untuk merebut hati Athaya yang nyatanya Athaya nyaman berada di antaranya. Athaya menunggu lebah datang padanya. Jadi, siapa yang berhasil mendapatkan cinta Athaya?
Dicintai duluan memang menyenangkan, bukan? It’s easier to fall in love when someone loves you.—hlm. 214
Baper gaes, baper! Buat jomlo tiati ya kalau baca novel ini. Mengandung benih-benih bunga yang mampu membuatmu senyum-senyum sendiri, merona sendiri. Yang digombalin siapa, yang blushing siapa.
Sebuah novel bergenre citylite pertama yang aku baca. Latarnya Jakarta banget, kota metropolis banget, suasana kerja juga dapet banget. Mendekati real life. Asli. Mungkin dikarenakan penulis pernah belajar di jurusan IT, jadi dia tahu betul isinya dunia kerja bidang IT dengan segala tetek bengeknya yang tentunya nggak aku mengerti.
Selain suasana kantor, suasana romancenya dibumbui dengan rasa-rasa kocak dari tokoh figuran yang menarik perhatian. Radhi dan Ghanesa alias duo serigala tim IT yang super kocak bikin aku ngakak terus. Dikarenakan Athaya kerja di bidang yang kebanyakan digeluti oleh cowok, membuatnya mau tak mau dikelilingi oleh cowok-cowok. Jadi, baca novel ini tuh serasa masuk ke dunia para cowok. Tau deh apa aja yang diobrolin sama cowok-cowok.
Athaya digambarkan sebagai perempuan yang kuat. Di usia quarter life-nya, ia sudah jadi tulang punggung keluarga. Berpendirian unik, percaya diri, mampu menempatkan diri di segala situasi, dan sosok role model cewek-cewek tomboy.
Satrya adalah cowok dengan wajah yang sering dicari-cari cewek-cewek aka wajahmu mengalihkan duniaku. Pemuda dewasa yang modusnya banyak banget. Nggak garing-garing amat. Suka sarapan kopi saja.
Ghilman nggak kalah dewasanya dengan Satrya. Nggak kalah cakep pula, tapi dia berjambang. Siap lahir batin untuk menikah. Tinggal menunggu sosok yang cocok dengan dirinya, dengan pola pikirnya.
Secangkir Kopi dan Pencakar Langit bercerita dengan sudut pandang orang ketiga. Point of view ini memang asik, sehingga bisa membuat pembaca memahami pola pikir karakter lain. Kemudian kemunculan tokoh-tokohnya sesuai dengan porsinya. Gaya bahasa pun cocok sekali dengan genre citylite. Banyak banget bahasa gaul ala anak kota yang baru aku ketahui.
Konflik yang diangkat sebenarnya nggak rumit, eksekusinya juga nggak rumit, tapi haslinya ngena banget. Dekat dengan kehidupan sehari-hari. Apa novel ini berdasarkan kisah nyata, ya?
Kata orang, menggenggam cinta itu seperti menggenggam pasir, jangan terlalu erat, nanti perlahan terempas.—hlm. 215
Yang aku suka dari novel ini, tentunya yang membuat novel ini berbeda dengan novel romance lainnya adalah sikap dewasa para tokohnya. Meski mencintai orang yang sama, mereka nggak ada tuh yang namanya iri-irian, benci-bencian, adu jotos, ataupun saling lempar sumpah serapah. Bener-bener kisah cinta dewasa. Aku mikir dong, adakah di dunia nyata ini cowok yang hatinya mirip sama Ghilman dan Satrya?
Pesan yang aku tangkap dari novel ini adalah kalau jodoh emang nggak kemana. Bersikaplah dewasa bila berurusan sama cinta biar nggak bucin. Cinta itu rumit. Kita nggak tahu Tuhan memberi kita hidup yang seperti apa, namun pastinya Tuhan akan selalu memberi apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Mencintai atau dicintai keduanya sama saja, tinggal kitanya saja bagamana cara kita menerimanya. Jadilah diri sendiri, cintai dirimu sendiri, be strong girl! Dan, penting untuk berpikir panjang. Yang cewek butuhkan adalah cowok yang bertanggung jawab dan keseriusan. Betul?
Okeh, nggak ada ruginya kalian baca novel ini. Dikarenakan aku rasa novel ini nggak ada yang “aneh-aneh”, jadi oke lah dibaca oleh remaja, biar bucinnya bermanfaat.
Sebagai penutup, KABAR BAIKNYA KALIAN BISA BACA NOVEL INI GRATIS DAN LEGAL DI iPUSNAS. JANGAN BACA YANG ILEGAL , YA!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar