Sabtu, 06 Juni 2020

Ulasan Buku: Represi

Anna bunuh diri, apa penyebabnya? Kamu mungkin juga pernah mengalaminya. Lalu, persahabatan mereka bikin aku gagal move on dari novel ini. Siapa aja sih?


Judul: Represi
Penulis: Fakhrisina Amalia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2018
Tebal:  264 halaman
ISBN: 9786020611945
E-ISBN: 9786020611952

Blurb:
Awalnya hidup Anna berjalan baik-baik saja.

Meski tidak terlalu dekat dengan ayahnya, Anna punya seorang ibu dan para sahabat yang setia. Sejak SMA, para sahabatnya mendampingi Anna, memahami gadis itu melebihi dirinya sendiri.

Namun, keadaan berubah ketika Anna mulai menjauh dari para sahabatnya. Bukan hanya itu, hubungan dia dengan ibunya pun memburuk. Anna semakin hari menjadi sosok yang semakin asing. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada Anna, hingga pada suatu hari, dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya yang ternyata penuh luka.
_________
Kisahnya berawal dari Anna yang ditemukan ibunya dalam kondisi mulut berbusa dan kejang-kejang. Hampir saja.

Bila menemui kasus seperti itu, orang tua akan dihadapkan pada beberapa penanganan lanjut setelah mengetahui anaknya lolos dari maut. Membiarkannya, melindunginya dengan kasih sayang yang berlebihan, sampai mengirimnya ke psikolog bila punya uang.

Beruntung. Anna, mahasiswi jurusan DKV yang berusia 23 tahun itu dipaksa ibunya menemui psikolog setelah ia gagal dari percobaan bunuh dirinya beberapa hari sebelumnya. Anna bukan anak kecil lagi, jadi ia tahu mengapa dirinya harus bertemu dengan psikolog. Menyembuhkan lukanya. Tapi, semakin Anna mengingat luka itu, ia akan merasa tidak nyaman dan keinginan untuk mati pun muncul di pikirannya.

Sudah pasti tugas psikolog adalah membuat client-nya merasa nyaman dan tak terbebani ketika berkomunikasi dengannya. Seperti seharusnya, Nabila—psikolog itu—perlahan bisa membuat Anna mengerti masalahnya, mengobati lukanya. Dengan cara apa? Bercerita dan tanya jawab dengan pendekatan kegiatan kesukaan Anna. Yap, menggambar.

Aku baru tahu, ternyata terapis dengan melakukan hal-hal yang kita sukai itu ternyata bisa membuat seseorang rileks. Lebih santai dan tenang.

Dari sesi pertemuan Nabila dan Anna, pembaca disugukan alur maju-mundur. Mempertegas kegiatan terapi Anna. Ya, Nabila menyuruh Anna untuk bercerita tentang hubungannya dengan ibu dan ayahnya, sahabatnya, kucing kesayangannya, dan lelaki tak bernama yang ada di kertas manila yang ia gambar. Serta gumpalan hitam kelam di dekat lelaki itu.

Setiap orang pasti punya cara pikirnya sendiri. Punya emosi tertentu ketika ia mendapatkan stimulus tertentu. Anna menyimpan memori emosinya sedari kecil, bahkan memori luka paling dalam itu. Yang membuatnya tumbuh dengan pikiran ‘aku orang yang menjijikan’. Luka itu terulang kembali di masa muda dewasanya. Doktrin-doktrin orang tua juga mempengaruhi emosinya.

Setiap orang tua pasti punya cara asuh sendiri untuk anak-anaknya—tentunya supaya anak bisa menjadi seperti yang orang tua inginkan. Tapi, setiap anak juga punya penerimaan yang berbeda-beda. Orang tua Anna tidak salah, Anna juga tidak salah. Di sinilah kita mengerti bahwa setiap keluarga mempunyai masalahnya masing-masing.
Bagi Anna, yang paling penting adalah mereka baik-baik saja dan saling menjaga. Bersahabat tidak berarti harus selalu bertemu dan menghabiskan waktu bersama. Kadang-kadang bersahabat adalah tentang tetp saling menjaga dan mendukung ketika jauh. Bersahabat adalah tentang tetap bisa bertemu tanpa canggung dan seperti tidak pernah berjauhan. Bersahabat itu soal hati, bukan soal fisik.—hlm. 70
Aku iri dengan persahabatan Anna, Ouji, Saka, Hani, dan Nika. Persahabatan memang bukan tentang betapa kita sering bertemu, tetapi tentang hati. Mereka dipertemukan di sebuah organisasi sekolah menengah atas yang kemudian berlanjut sampai sekarang. Perkuliahan pun, mereka beradaa di jurusan yang berbeda. Persahabatan mereka diuji dengan datangnya kisah asmara. Kalian semua pasti pernah punya masalah yang sama dengan kisah persahabatan mereka. Ada yang nggak bisa kumpul bersama karena ada jadwal kencan, acara kumpul jadi sering nggak lengkap, hingga larangan untuk sering-sering ketemu sahabat. Persahabatan mereka tuh solid banget. Saling mengerti perasaan satu sama lain dan  saling peduli. Friendship goal deh pokoknya!

Sky, pacar Anna. Sebuah hubungan yang sehat itu seharusnya membawa perubahan yang positif. Kalau enggak itu namanya toxic—kata sahabatnya Anna sih gitu. Sky itu tipe pacar yang possessive, bisa dibilang over possesive. Pokoknya, intinya, kamu pusat keseharianku, aku juga pusat keseharianmu. Hubungan ini membawa perubahan buruk pada Anna. Dan pada akhirnya,
“… Anna merasa dirinya jatuh, jauh ke lubang yang gelap dan dalam.”—hlm. 179

Perjalanan hidup setiap orang berbeda. Tapi, percayalah siklusnya sama. Seperti siklus kupu-kupu. Tapi entah berapa lama waktunya, setiap orang juga beda-beda.

Dengan membaca buku ini, aku belajar banyak hal tentang kehidupan, tentang bersosialisasi dengan orang-orang, tentang bagaimana kita seharusnya memandang permasalahan dalam hidup kita, belajar memafkan diri dan meminta maaf, bersikap terbuka pada orang yang seharusnya, dan berpikiran terbuka.

Buku ini tersedia dan bisa dibaca gratis di aplikasi perpustakaan digital iPusnas. Selamat membaca dan salam literasi!

Rated: 4,3/5
Baca: 30 Mei 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar