Jumat, 12 Juni 2020

Ulasan Buku: Re:

Ada dua kutipan dari novel ini yang bikin aku menangis. Hanya dua. Beneran nangis.
“Jangan sampai di tubuhnya melekat keringat pelacur. Peluk dia  untukku.”—hlm. 138
“Titip cium dan peluk buatnya. Bisikkan di kupingnya, sampaikan maafku, tak bisa membesarkannya sendiri.”—hlm. 143


Judul : Re:
Penulis : Maman Suherman
Penerbit : POP (imprint KPG)
Tahun terbit : 2014
Tebal : vi + 160
ISBN : 978-602-6208-31-6

Blurb:
“Panggil aku: Re:!”
“Pekerjaanku pelacur!”
“Lebih tepatnya, pelacur lesbian!”

Pertemuan dengan Re:, si pelacur lesbian, mengubah jalan hidup Herman. Semula, mahasiswa Kriminologi itu menganggap Re: sekadar objek penelitian skripsinya. Namun, yang terjadi malah sebaliknya.

Kisah hidup Re: yang berliku menyeret Herman hingga jauh ke dalam. Herman terpaksa terlibat dalam sisi tergelap dunia pelacuran yang bersimbah darah, dendam, dan airmata.
_______

Maman Suherman berhasil masuk ke lingkaran kolam penelitiannya. Ia bersama Re:--pelacur--berhasil membawa pembaca masuk ke dalam dunia pelacuran dan kriminalitas di dalamnya.

Dari novel ini aku mendapat pengetahuan baru mengenai dunia pelacuran—yang memang baru banget bagiku. Maman memberitahu pembaca melalui tulisannya tentang pelacur pria dan wanita, klasifikasi pelacur dilihat dari berbagai sudut pandang, tempat-tempat mereka berkegiatan, serta jenis-jenis kegiatan ataupun pestanya, hingga bahasa ilmiah dunia pelacuran.

Ada beberapa yang membuatku tercengang. Maman Suherman juga membahas tentang wartawan media yang membuat berita dengan menggunakan kata-kata yang tidak manusiawi, padahal pelacur juga manusia. Selain itu kekhawatirannya pada Re: dan mengenai pelacur yang juga rentan akan penyakit seksual.
“lonte itu sepertinya saja hidup karena masih bernapas, padahal sudah mati. Sering tidak dianggap bukan manusia. Kalau sudah tidak diperlukan, dibuang begitu saja. Dikejar-kejar seperti coro. Diinjak-injak sampai nggak berbentuk.”—hlm. 40 
Dengan menggunakan sudut pandang orang pertama, Maman, pembaca bisa tahu bagaimana usaha Maman untuk menggali informasi hingga menyerahkan dirinya ke dalam lingkaran itu. Aku ketir-ketir bacanya.

Jika kalian beranggapan bahwa novel ini bercerita tentang pelacur dan ‘kegiatan’nya, kalian memang harus baca ini. Salah besar jika kalian berpikiran seperti itu. Yang disampaikan dalam buku ini bukan adegan seksualnya, melainkan bagaimana mereka bermula menjadi pelacur, bertahan hidup demi orang yang dicintainya, hidup bertaruh nyawa hingga kasus perampasan, terikat janji manis Germo hingga nyawa yang menjadi jaminan.

Melalui kisah Re:, aku jadi mengerti bahwa tidak semua wanita itu berhati ibu. Aku malah berterima kasih kepada Re: yang memberi anaknya kehidupan.

Aku membacanya dengan berbagai emosi, mulai dari penasaran, marah, hingga menangis. Novel berdasarkan kisah nyata Maman Suherman di perjalanan menyusun skripsinya ini tidak terlalu tebal dan tidak basa-basi. Semua yang disampaikan memiliki informasi menarik yang harus pembaca tahu.

Dari sekian buku yang sudah kubaca, novel ini adalah salah satu buku yang memberiku ilmu baru dan seperti buku pelajaran baru bagiku. Setelah baca ini, pembaca akan dibuat penasaran dengan buku sekuelnya yang berjudul “Perempuan”.

Rating saya: 4/5 ⭐
Baca : 16-17 Januari 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar