Jumat, 12 Juni 2020

Ulasan Buku: Persona

“… Waktu selalu punya cara untuk mengubahmu,” kata Altair. –hlm. 54
Rekomendasi untuk yang mencari novel dengan tema mental illness, astronomi, dan legenda.


Judul: Persona
Penulis: Fakhrisina Amalia
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2016
Tebal: 248 halaman
ISBN: 978-602-03-2629-0
Rating saya: 4/5⭐
Baca: 2 - 4 Januari 2020

Blurb:
Namanya Altair, seperti salah satu bintang terang di rasi Aquila yang membentuk segitiga musim panas. Azura mengenalnya di sekolah sebagai murid baru blasteran Jepang yang kesulitan menyebut huruf L pada namanya sendiri.

Azura merasa hidupnya yang berantakan perlahan membaik dengan kehadiran Altair. Keberadaan Altair lambat laun membuat perasaan Azura terhadap Kak Nara yang sudah lama dipendam pun luntur.

Namun, saat dia mulai jatuh cinta pada Altair, cowok itu tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Bukan hanya kehilangan Altair, Azura juga harus menghadapi kenyataan bahwa orang tuanya memiliki banyak rahasia, yang mulai terungkap satu demi satu. Dan pada saat itu, Kak Nara-lah tempat Azura berlindung.

Ketika Azura merasa kehidupannya mulai berjalan normal, Altair kembali lagi. Dan kali ini Azura dihadapkan pada kenyataan untuk memilih antara Altair atau Kak Nara.
_______
“Waktu selalu punya cara mengubah segalanya, Ata,” –hlm. 54
 “… Kita seharusnya punya satu atau beberapa hal yang seumur hidup pengin kita lakukan, itu bakal menjaga kita tetap waras.” –hlm. 136
“… Kau harus hidup untuk dirimu sendiri. …” –hlm. 188
Ada orang yang memilih untuk hidup sendiri tanpa teman karena memang tak ada yang mau bermain dengannya. Tapi tentunya ia masih memiliki orang yang ia sayangi dan miliki, orang tua. Namun, bagaimana jika suatu saat orang tuanya hanya peduli dengan kesibukannya sendiri?

Sedari kecil, Azura memang tak memiliki teman. Tapi tidak apa, ia masih punya orang tua yang selalu ada untuknya. Makan bersama hingga mengantar jemput sekolah. Namun, semua itu tidak abadi. Seiring berjalannya waktu, moment itu kian menghilang dan semakin rumit. Orang tuanya sering bertengkar, hingga suatu hari dimana Azura benar-benar merasa seperti tidak punya siapa-siapa. Rahasia masa lalu orang tuanya yang berhubungan dengan Azura terungkap. Rasa sakit yang tak berwujud dirasakan oleh Azura, membutuhkan perwujudan. Azura menyayat pergelangan tangannya. Ia malah merasa lebih tenang setelah merasakan sakit oleh sayatan mini-cutter.
“Hanya karena kau menganggapku temanmu, bukan berarti aku juga menganggapmu temanku,” –hlm. 19
Akhirnya, Azura memiliki teman. Altair namanya. Pemuda blasteran Jepang yang merupakan siswa baru di kelasnya. Altair memiliki kesamaan dengan Azura. Pertemanan mereka berdua adalah langkah baik untuk Azura karena ia jadi berhenti menyayat. Kehadiran Altair juga mengubah perasaannya terhadap Nara, senior yang sedari dulu ia sukai. Namun, ketika Azura sudah mengakuinya, Altair malah tiba-tiba menghilang dari hadapannya.

Perjalanan hidup yang panjang dan berat dilalui oleh Azura. Ia menemui sahabat baru bernama Yara di perguruan tinggi yang kemudian membuatnya bertemu dengan seniornya, Nara. Juga keluarga baru.

Hidupnya kembali menjadi berat dan ia kembali menyayat pergelangan tangannya ketika mengetahui kenyataan pahit tentang sang Mama. Rasa sakit itu muncul kembali, dan Altair hadir untuknya lagi.

Beruntung, ada Yara, Nara, dan Orang tua Nara. Semua menjadi terdeteksi dengan jelas. Dengan segala fakta yang ada, Azura terpaksa tidur di rumah sakit jiwa.

Azura gila? Bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa dengan Azura?

Prolognya menarik. Membuat pembaca menerka-nerka dengan apa yang terjadi dengan Azura yang tiba-tiba histeris. Sangat awal sekali, aku sudah menduga siapa itu Altair. Aku pernah membaca sebuah novel mengenai tokoh imajinasi dan kepribadian ganda. Aku pikir novel ini sama dengan novel yang pernah kubaca. Altair itu tidak nyata. Kecurigaanku merembet kepada Nara dan Yara. Semua terjawab setelah aku memahami epilognya.

Plottwist banget. Bikin nyesek juga ketika aku tahu bahwa mereka anak broken home benar-benar ingin didengar dan ingin memiliki teman serta perhatian. Mereka membutuhkan bantuan. Rasa sakit mereka yang tidak tampak atau tidak berwujud, lama-kelamaan akan mendorongnya untuk melakukan sesuatu agar rasa sakit itu berwujud.
“Tidak bijak menyebut penderita skizofrenia dengan kata gila,” –hlm. 219
Aku setuju dengan kalimat di atas. Bikin marah lagi ketika yang bilang Azura gila adalah mamanya sendiri. Huft… Ada satu fakta yang aku dapatkan dari membaca novel ini dan novel yang sudah pernah aku baca dengan tema yang sama, yang mengetahui bahwa ada yang aneh dengan penderita mental illness adalah bukan orang tuanya sendiri. Justru orang lain yang menemukan keanehan tingkah laku penderita. Hal ini tentu berarti bahwa perhatian orang tua sangat diperlukan demi tumbuh kembang serta perkembangan mental anak.

Pembaca dituntun untuk merasakan emosi dan pola pikir Azura dengan menggunakan sudut pandang orang pertama ‘aku’. Dengan Alur maju-mundur serta tanda titimangsa yang diberikan di awal bab, tidak akan membuat pembaca bingung. Hal ini membantu pembaca untuk menyesuaikan imajinasinya karena ada selang waktu yang begitu lama seperti kehidupan SMA Azura kemudian lompat ke Azura seorang Mahasiswa.

Hal menarik lainnya yang aku temui dalam novel ini adalah adanya unsur legenda dan astronomi. Legenda Jepang mengenai Hikoboshi dan Orihime yang tentunya berhubungan dengan rasi bintang di musim panas.

Bila kalian penasaran atau ingin membaca novel ini, pastikan kalian dalam kondisi baik, tidak bertengkar dengan orang tua atau dalam kondisi perasaan yang buruk. Bila kalian sedang mencari novel yang membahas sedikit tentang astronomi, aku sarankan novel ini untuk kalian baca.
“Aku ingin kau nyata,” –hlm. 230
“Banyak hal dalam hidup ini yang jauh lebih menyenangkan daripada berkutat dengan dunia maya. Dunia itu tidak nyata, Ata.” –hlm. 111

Tidak ada komentar:

Posting Komentar