Paket komplit hanya dalam 320 halaman
Judul : Orbit Tiga Mimpi
Penulis : Miranda Malonka
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2017
Tebal : 320 halaman
ISBN : 978-602-03-3204-8
Blurb:
Alejandro terobsesi dengan benda-benda angkasa dan bertekad menang olimpiade astronomi. Tapi, bagaimana dia bisa menang kalau pelajaran matematika justru membuatnya merana?
Asterion, vokalis band yang selalu cerah ceria dan tidak pernah menangis. Tak ada yang tahu dia menyembunyikan banyak rahasia di balik suara merdunya.
Angkara senang menghabiskan waktu untuk merenung dan menulis puisi tentang bintang-bintang. Tapi, seluruh dunia ingin dia mengubah gaya menulisnya.
Ketiga orang yang sangat berbeda ini dipersatukan oleh kelompok belajar yang dipilih sesuai urutan absensi kelas. Meski awalnya canggung, ketiganya menemukan diri mereka mengorbit satu sama lain.
Namun, ketika perasaan saling suka melesat bagai meteor, ditambah keresahan atas identitas diri, akankah orbit mereka terus berputar atau malah hancur lebur?
______
Ale tidak kurang kerjaan. Kara juga tidak. –hlm. 10
Blurbnya emang bikin penasaran, isinya pun memang menarik dan komplit.
Asterion, Ale, Kara dipertemukan di kelas yang sama di tahun kedua mereka di Sekolah Menengah Atas. Berada urutan satu sampai tiga di absensi kelas membuat mereka harus bekerja sama sebagai kelompok di pelajaran biologi dan memiliki kelebihan tempat duduk yang strategis membantu mereka perlahan saling mengenali satu sama lain.
Aster, si gadis ceria yang jarang menangis, menyukai dunia music, seorang vocalist yang dipercaya sebagai penulis lirik grup bandnya. Hidup berdua dengan kakaknya, sementara orang tua mereka melanjutkan studinya mengenai filsafat di luar negeri. Bisa dibilang Aster dan sang Kakak kurang perhatian orang tua. Dan Aster benci filsafat. Kehidupannya semakin rumit karena rasa kesepian dan sesuatu yang kan membuatnya merasa betapa beruntungnya ia memiliki Ale, Kara, dan teman-teman satu band-nya.
Ale, pemuda yang sangat menyukai astronomi dan biologi, namun sangat lemah di matematika yang membuatnya merasa terbebani ketika ingin mengikuti Olimpiade Astronomi. Beda dari kebiasaan yang identik cowok, Ale merupakan pribadi yang menyukai kerapian. Hobinya stargazing. Ia bimbang akan masa depannya, biologi atau astronomi?
Kara, penulis puisi bertema astronomi serta pengisi tetap majalah dinding sekolah. Selain itu, ia cukup pandai berbagai pelajaran. Hidup sederhana berdua dengan sang ayah yang bekerja di sebuah café, membuatnya menjadi anak yang penuh syukur dan mandiri. Mempunyai kesukaan yang sama dengan Ale, membuat Aster iri padanya. Kara akan melalui harinya dengan penuh tantangan dan diuji untuk keluar dari zona nyamannya sebagai penulis puisi.
Memiliki kesukaan masing-masing, namun mereka saling mengorbit satu sama lain.Being positive is one of my good qualities. –hlm. 38
“Hadapi saja,” kata Aster, jelas dan tegas. “Nggak peduli kamu siap atau nggak. Begitulah caranya membangun mental. You learn it the hard way.” –hlm. 92
Persahabatan yang melibatkan laki-laki dan perempuan memang nggak 100% tak melibatkan rasa. Aster, Ale, Kara punya rasanya. Mereka melakukannya dengan lembut dan tentunya mereka anak yang baik. Nggak hanya tentang persahabatan dan kisah asmara anak SMA saja, dalam novel ini juga menyentuh konflik-konflik yang biasanya dihadapi oleh para remaja, seperti passion, cita-cita, keluarga, pencarian jati diri, dan lingkungan pertemanan mereka.
Penulis berhasil menyatukan beberapa bidang ilmu dan terasa saling mengisi atau saling terhubung. Ada astronomi, musik, dan sastra. Astronomi melalui Ale dan Kara, musik melalui Aster, dan sastra melalui Kara. Hal ini tentunya didukung oleh sudut pandang yang membuat perbedaan, apakah kita akan membahas astronomi, musik, atau sastra. Yup, sudut pandang orang pertama yang dipisah menjadi 3 sudut pandang yaitu dari sudut Aster, Ale, dan Kara. Sudut pandang berganti tiap bab, dan masing-masing karakter memiliki gaya bahasa yang khas.
“Kamu boleh ngeluarin apa saja dari hatimu, Ster. Itulah gunanya teman. Kita jadi tong sampah teman kita, nggak peduli betapa nyebelinnya itu.”—hlm. 153
Bahas mengenai gaya bahasa, gaya bahasanya anak sekolahan banget. Selain gaya bahasa yang mengikuti tema remaja atau anak sekolah, gaya bahasa digunakan untuk mempresentasikan sifat dan karakter khusus tokoh tersebut. Karena cerita ini nggak bisa lepas dari astronomi, sastra, dan musik, gaya bahasa dan kosakata yang digunakan tidak jauh-jauh dari 3 bidang tersebut. Tetap tenang dan nggak usah khawatir, pembaca masih bisa mengerti apa yang mereka bicarakan meski tidak tahu mengenai astronomi atau dua bidang lain yang diusung novel ini. Karena novel ini ngena di hati. Apalagi plottwistnya.
Hati-hati dengan plottwistnya ya!
Banyak banget hal yang bisa aku ambil dari kisah ini. Pesan yang disampaikan ada yang dalam bentuk narasi maupun percakapan antar tokoh. Quote-able dan ngena banget!
Dalam hidup pasti banyak hal yang harus kita lakukan. Jangan terjebak di zona nyamanmu, karena terlalu banyak hal yang seharusnya kalian lakukan daripada tetap diam dalam zonamu. Dengan mencoba hal baru, kalian akan menemukan hal baru dan berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Tetap bersyukur pada apa yang kamu dapatkan. Jadilah orang yang bersemangat!
“Keadaan kita memperbolehkan kita untuk jatuh dan menangis, tapi kamu memilih tidak melakukannya.”—hlm. 192
Masih banyak pesan yang disampaikan oleh penulis melalui Orbit Tiga Mimpi. Jadi, supaya pesannya tersampaikan, ayo baca buku!—buku legal tentunya.
Dan, sayang banget kalau kalimat quote-ablenya nggak aku share di sini. Semoga bikin kalian semangat jalani hidup dan raih impian, tentunya bikin kalian penasaran sama Orbit Tiga Mimpi ini!
Papa harus tahu bahwa dia-lah kepala tata suryaku. Tempat seluruh hidupku mengorbit. –hlm. 193“Sebelum kita menimbun diri dengan kesibukan yang rumit, bukankah kita sebaiknya menyadari kalau hidup ini sebenarnya sangat sederhana?”—hlm. 302
“Tidakkah cinta itu lucu?” bisik Kara lagi. “Orang mencintai selalu tanpa pamrih, karena jika berpamrih, itu bukanlah cinta. Terkadang kita tidak mengerti bentuk-bentuk cinta itu sendiri. Terkadang ia tidak berbalas, tapi ia berdiri sendiri. Sebagai cinta. Sesuatu yang sangat indah.”—hlm. 302
Lihat, betapa manusia itu sangat dekat dengan ketiadaan. Dan betapa sang waktu yang kita kira bergerak merayap, sebetulnya tengah berlari sekencang angin, membalapi kita, dan takkan pernah membiarkan kita menang. Betapa seseorang bisa menjelma dari orang asing menjadi sahabat dalam sekejap. Betapa semuanya bisa berubah hanya karena angin berembus pada arah yang berbeda. Pada akhirnya, semua keraguan dan rasa gundah taka da lagi maknanya.—hlm. 304
Lagi-lagi, setiap waktu, kita dihadapkan pada perubahan. Dan ternyata, sekeras apa pun kita mencoba untuk siap, sebetulnya kita nggak akan pernah siap menghadapinya. Karena ketika kita sudah betul-betul siap, namnay bukan lagi perubahan.—hlm. 314.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar