Judul: Heartwarming Chocolate
Penulis: Prisca Primasari
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun: 2016
Tebal: 223 halaman
ISBN: 978-602-291-259-0
Blurb:
Whattt? Marzipan tutup? Viola shock berat begitu tahu kedai minuman cokelat favorit itu tutup untuk selamanya. Karena itu, ia dan Auden—pria yang baru saja ditemuinya dan sama-sama penggemar Marzipan—mencari tahu alasan kedai itu bubar jalan. Ternyata, Marzipan memang harus tutup karena pemiliknya akan pindah keluar negeri.
Sebelum pergi, pemilik kedai malah memberikan tantangan kepada Viola dan Auden. Kalau pengin banget minum, kenapa tidak bikin sendiri? Shock tahapp dua! Viola tidak pernah akur dengan urusan dapur, ia hanya bisa saling pandang dengan Auden.
Demi dapat merasakan lagi surga kelezatan cokelat Marzipan, Viola dan Auden jadi sering beremu. Di tengah rasa penasan menemukan racikan cokelat yang pas, secara perlahan Viola dan Auden mulai saling membuka diri. Sayangnya salah seorang dari mereka terlalu jauh menyelami luka terdalam yang lainnya. Hubungan yang seharusnya berlanjut hangat, terpaksa tersendat.
______
Kedai Marzipan tutup. Viola bingung harus kemana lagi untuk memenuhi hasrat kegilaannya pada Minuman cokelat yang sama rasa dengan produk Kedai Marzipan. Tidak ada yang bisa menyamai cokelat Marzipan. Dengan beberapa tragedi sebelum Marzipan tutup, Viola bertemu dengan pemuda bernama Auden yang juga menyukai cokelat Marzipan.
Dari pertemuan tersebut, membawa Viola menemui pemilik kedai Marzipan. Ia datang ke tempat itu untu menanyakan alasan mengapa Marzipan tutup, ia dan Auden malah ditantang oleh pemiliknya untuk membuat cokelat yang rasanya mirip dengan cokelat Marzipan. Dengan berbagai usaha, Vila dan Auden selayaknya seorang peneliti minuman cokelat. Bereksperimen dengan berbagai bahan cokelat.
Lama-kelamaan, Viola dan Auden lancar menjalin komunikasi bahkan ada interaksi yang menandakan ada ketertarikan satu sama lain di sana. Apakah itu? Namun, karena suatu hal, Viola yang ingin membantu Auden berdamai dengan kisahnya, teerlihat terlalu lancang untuk ikut campur. Semua jadi terasa agak menyulitkan.
Akankah mereka bisa baikan lagi? Apakah cokelat eksperimen mereka berhasil?
Nyatanya cokelat memang bikin suasana, pikiran, dan hati jadi hangat dan tenang.
Hei, penasaran nggak, sih?
Viola adalah perempuan dewasa yang bekerja di butik sepatu bernama Anyeli’s Shoes. Perempuan pekerja keras dan jago desain sepatu, namun payah dalam urusan dapur. Ia punya seorang adik laki-laki bernama Olav yang masih duduk di bangku kuliah. Viola bisa dibilang penggila minuman cokelat khususnya cokelat kedai Marzipan, ia pernah bertengkar dengan Olav karena cokelatnya diminum oleh Olav. Intinya, nggak rela bagi-bagi. Dengan kehidupannya yang super mandiri, tinggal berdua bersama adiknya, sedangkan orang tuanya telah lama bercerai, bersamaan dengan menjalani harinya, ia menemukan berbagai konflik dalam hidupnya.
Auden merupakan seorang mahasiswa sastra Inggris pula pecinta cokelat Marzipan. Pemuda yatim piatu yang penuh misteri. Hidup sendiri setelah ditinggal oleh sang Adik—Reagan—ke luar negeri untuk menuntut ilmu dan alasan lain yang sangat sentitif di kehidupan Auden-Reagan. Hidup mandiri seorang diri, membuat Auden merasa kesepian. Dengan datangnya Viola dalam kehidupannya, semua seolah berjalan dengan baik seterusnya.
“Gue nggak tahu, Mbak. Tapi, karena udah terlanjur, satu-satunya yang bisa lo lakuin Cuma positive thinking.”—hlm. 184
Bandung dan sekitarnya memang menyimpan tempat-tempat unik untuk dijadikan sebagai inspirasi dalam cerita. Apalagi cerita yang bertema kesepian dan kenangan, beuh banyak banget tempat yang asik buat menyendiri. Aura kafe dan Bandungnya kerasa banget.
Selain Bandung banget, novel ini juga cokelat banget. Sesuai dengan judul, cokelat yang ada dalam novel ini membawa kehangatan. Entah untuk teman ngobrol, teman istirahat, hingga sesuatu yang bisa membuat hati seseorang menjadi hangat dan lembut. Setelah mengetahui bahwa sang penulis—Prisca Primasari—adalah penggemar cokelat, novel ini berasa seperti sebuah rasa cinta penulis pada cokelat. Tidak hanya tentang hidangan minuman cokelat saja, namun di novel ini juga pembaca bisa sedikit banyak tahhu tentang sejarah dan jenis-jenisnya, serta cara meracik cokelat ala Viola dan Auden. Tips utamanya sih bubuhkan perasaan sayang ketika membuat minuman cokelat, eaak.
Setiap orang pasti memiliki masalah masing-masing, dan masing-masing orang di sekitar memiliki perannya untuk membantu menyelesaikan masalah tersebut. Tapi tentunya harus dengan usaha kita sendiri. Konflik yang diangkat oleh penulis lebih kepada masalah keluarga. Keluarga broken home, yatim piatu, konflik antar saudara, hingga konflik antara suami-istri. Bisa dibilang paket lengkap konflik keluarga. Pembaca bisa belajar banyak hal dalam menghadapi berbagai masalah melalui novel ini.
Sayangnya, Point of View orang ketiga yang ada di “Heartwarming Chocolate” terfokus pada Viola. Meskipun begitu, kelebihannya adalah tokoh lain seperti Auden jadi agak misterius dan pembaca bisa fokus pada emosi Viola dan menunjukkan bahwa tokoh utama kita di sini adalah Viola.
Banyak hal baru yang aku pelajari dari novel ini, hidup memang penuh cobaan dan tantangan, maka bergeraklah maju. Jangan melarikan diri! Mari duduk sambil menikmati kudapan atau minuman favorit dan mulailah percakapan. Dan, buat kalian yang nggak jago masak atau kalau masak sesuatu hasilnya kurang memuaskan, resep rahasia agar masakan terasa lezat adalah cinta dan sabar.
“Syukurlah. Secangkir cokelat memang mampu memannggil kasih sayang yang sempat terlupakan, ya.”—hlm. 209
Novel ini berhasil membuatku minum cokelat sasetan di antara rintik hujan. Lengkap!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar