Judul: Evergreen
Penulis: Prisca Primasari
Penerbit: Grasindo
Tahun: 2013
EISBN: 978-602-05-1945-6
Blurb:
Konichiwa! Selamat datang di Evergreen, kafe es krim penuh pelayan baik hati, lagu The Beatles akan melengkapi hari-harimu. Tempat yang menghangatkan, bahkan bagi seorang gadis pengeluh dan egois sepertimu, Rachel!
Di kafe itu, kau menemukan sebuah dunia baru juga pelarian setelah dipecat dari pekerjaanmu. Menurutku itu bagus! Apa enaknya sih kerja jadi editor?
Namun, sebenarnya butuh berapa banyak kenangan dan sorbet stroberi untuk mengubah sifat egoismu? Atau yang kau butuhkan sebenarnya hanya kasih sayang? Mungkin dariku, si pemilik kafe? Hmmm?
_________
Rachel dipecat dari pekerjaannya sebagai editor, kehilangan teman, frustasi hingga ingin bunuh diri. Beruntung ia mendatangi café Evergreen dan bertemu dengan pelayan serta pemilik café. Bertemu dengan orang baru dengan bergagai latar belakang yang langsung maupun tidak langsung sudah berbagi cerita, sehingga Rachel menyadari suatu hal dalam dirinya yang telah berubah dan telah menyakiti orang-orang terdekatnya. Fumio dan Toshi dengan kehidupannya yang begitu berat, Gamma orang Indonesia, Kari yang ceria, Toichiro yang misterius, dan Yuya pemilik Kafe yang baik hati. Perlahan ia memperbaiki kesalahannya. Dengan kepercayaan diri ia berhasil menemukan dirinya yang dulu. Seorang Rachel yang baik hati dan tidak egois sebelum ayahnya pergi.
Sebuah cerita yang bisa dibilang tidak sederhana juga tidak terlalu rumit, namun mengena di hati pembaca. Berlatar Jepang dan membawa kebudayaannya membuat cerita ini penuh warna dan saling berhubungan. Kehilangan pekerjaan dan menganggur adalah suatu masalah bagi orang Jepang karena rasa malu yang mereka tanggung hingga bisa memunculkan pikiran untuk mengakhiri hidup. Bahasa yang digunakan pula ada beberapa kosakata bahasa Jepang.
“Pernahkah kau mendengar konsep ‘menghargai orang lain’, Nona?”—hlm. 160
“Seringkali kau tidak menyadari betapa kau sangat membutuhkan sahabatmu,”—hlm. 83
Tidak hanya menyinggung bunuh diri, novel ini juga membawa masalah keluarga, sahabat, pekerjaan, passion, hingga penyakit Alzheimer. Hal ini lah yang membuatku terkejut. Sebuah novel yang kukira berujung pada kisah romansa, ternyata justru membuatku sadar bahwa aku juga sama saja dengan Rachel. Pengeluh, egois, maunya dimengerti tanpa mau mengerti orang lain.
Kisah Fumio dan Toshi sangat dominan di cerita ini. Bahkan kisah Rachel sendiri-pun tertutupi oleh masalah adik-kakak yang cukup rumit dan menyedihkan. Selain itu, ada yang membuatku terkejut. Bisa dibilang ini adalah plottwistnya, berhubungan dengan Toichiro yang misterius. Penulis juga berhasil membuatku memahami begitu sulitnya menulis novel dan prosesnya di penerbitan melalui Akemi, Toichiro, dan Rachel.
“Tapi hati seseorang jauh lebih kuat daripada otaknya,”—hlm. 88
Sepanjang membaca, aku rasa seperti ada yang hilang pada interaksi Rachel-Yuya karena chemistry-nya kurang dan terlalu terburu-buru. Apakah memang dibuat seperti ini untuk memperkecil panjangnya naskah, atau porsinya memang seperti itu. Sayang banget.
Toshi adalah pemuda yang sudah berusia 20-an, namun sikapnya malah seperti anak-anak. Apakah ini adalah efek dari Alzheimer ataukah sifatnya memang seperti itu. Sebelum adanya deskripsi mengenai retang usia di antara Fumio dan Toshi, aku sempat mengira bahwa Toshi masih berusia 15 tahun-an.
Sudut pandang yang digunakan oleh penulis adalah orang ketiga. Pembaca bisa mengetahi apa yang dilakukan dan dirasakan oleh tokoh yang lain. Terutama interaksi Fumio-Toshi.
Membaca suatu buku, pasti ada ilmu baru yang didapat. Hal baru yang aku dapatkan dari novel ini adalah mengenai sistem penerbitan, proses menulis, rasa mengikhlaskan, dan percaya kepada orang lain. Merasa ditampar keras-keras oleh Yuya dan para karyawannya, bahwa membuat orang lain bahagia adalah salah satu jalan membuat diri sendiri bahagia.
“…. Dia bukan menulis untuk menjadi terkenal atau semacamnya. Dia menulis karena sangat menyukai profesi itu. …”—hlm. 114
“…. Pernahkah kau mendengar, bahwa ketika kau memaafkan seseorang, kau membuka lagi pintu rumah yang sebelumnya kau tutup rapat-rapat, yang telah membuat dirimu terperangkap dan kehabisan napas. Ketika kau memaafkan, kau pun bisa bernapas lagi. Dan hidup.”—hlm. 118
Terakhir, aku jadi menyadari satu hal, novel ini tidak bercerita mengenai Rachel dan kisahnya. Namun, ini adalah kisah Evergreen.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar