Jumat, 12 Juni 2020

Ulasan Buku: French Pink

Singkat tapi mengejutkan. Hey, apa cuma aku yang tahu warna pink ya pink?



Judul: French Pink
Penulis: Prisca Primasari
Penerbit: Grasindo
Tahun: 2014
Tebal: v + 74
EISBN: 978-602-542-550-7
4/5⭐

Blurb:

Di Distrik Jiyugaoka yang mungil dan cantik, dan berwarna-warni, Hitomi tiba-tiba bertemu pria aneh yang mengungkit-ungkit tentang kematian.

Siapa sebenarnya pria itu? Dan… lho, lho, mengapa dia jadi menyuruh Hitomi mencarikan syal warna French Pink? Mana mungkin sih pria beraura gelap seperti itu menyukai warna pink? Dan untu apa juga?

Ck. Sungguh pria itu benar-benar merepotkan Hitomi.
______
Blurbnya sudah mewakili cerita, jadi apa aku harus mengulanginya lagi?
“Kalau saja aku punya keberanian untuk mati, akan kulakukan sekarang juga.”—hlm. 5
“Aku tidak akan berpura-pura tegar lagi,”—hlm. 5
Hitomi adalah seorang wanita pemilik toko pita berwarna-warni. Pekerjaannya adalah memilihkan warna yang sesuai dengan permintaan pelanggan. Jadi dia banyak tahu tentang warna-warna. Namun, saat itu ia sedang diambang batas antara meneruskan hidup atau segera mengakhirinya.

Seorang pria dengan pakaian serba hitam tiba-tiba menemui Hitomi. Kemudian meminta tolong banyak hal kepada Hitomi hingga ia tidak duduk diam melamun yang tidak-tidak di tokonya. Membuat Hitomi penasaran siapa pria yang mengaku buta warna itu.

Ia sempat terpikirkan oleh perkataan temannya tentang shinigami a.k.a dewa pencabut nyawa. Apakah ini sudah waktunya ia mati?

Tadaa! Kejutan!

Cerita ini nggak panjang. Padat, nggak basa-basi. Penulis berhasil membuat pembaca penasaran dengan pria misterius itu hingga ikut menerka atau pun mengikuti isi pikiran Hitomi. Dengan mengambil kasus atau isu bunuh diri yang kental banget dengan image Jepang, penulis berhasil membawa pola pikir orang Jepang pada Hitomi, di mana mereka akan merasa frustasi dan ingin bunuh diri ketika berada di kondisi tidak memiliki tujuan hidup.

Jika diperbolehkan untuk membandingkan novel ini dengan novel sebelumnya yang juga berlatar sama—Jepang—berjudul Evergreen, novel ini sungguh sangat berbeda. Gaya bahasa yang digunakan dalam novel ini lebih menarik.

Tidak terlalu banyak tokoh, jadi pembaca dimanjakan untuk fokus pada dua tokoh, Hitomi dan pria yang mengaku buta warna.

Selalu ada yang unik dari karya Prisca Primasari. Selain tema bunuh diri, yang sangat khas dari novel ini adalah pengetahuan penulis kepada warna-warna. French pink, English pink, Dutch pink, Biru akuarium, English lavender. Ternyata warna itu lebih beragam dari yang aku tahu.
French Pink itu warna seperti apa?—hlm. 25
Ya, novel ini mengejutkan. Penasaran? Jangan khawatir, kalian bisa baca novel ini di iPusnas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar