Disonansi dalam teori Disonansi Kognitif adalah perasaan tidak nyaman yang memotivasi orang untuk mengambil langkah demi mengurangi ketidaknyamanan itu.—Disonansi
Cinta itu luar biasa. Menguji dan mengajari.
Judul: Disonansi
Penulis: Edith PS
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun: 2015
Tebal: 248 hlm
ISBN: 978-602-03-1779-3
Rated: 4/5 ⭐
Blurb:
Andre mungkin saja memiliki banyak kekurangan, tapi selingkuh bukan salah satunya. Sesaat aku mengutuk diriku, sempat menuduh mendiang suamiku atas tuduhan yang belum tentu benar. Tapi aku bisa apa?
Rinjani sudah terlalu lelah dengan kedukaan atas meninggalnya suami tercinta. Ratapan setahun terakhir seolah tidak pernah cukup. Sampai ia harus berurusan dengan surat-surat tanpa identitas yang muncul mengusik ketenteramannya, menimbulkan berbagai tanya dan prasangka atas mendiang suaminya.
Lalu saat mulai terpojok dan bingung harus ke mana, ia berkenalan dengan dengan olahraga lari jarak jauh yang membawanya ke Bromo Marathon, tempat semuanya—secara tak terduga—akan terjawab dan ia seharusnya tidak perlu “lari” lagi.
_______
Ada hal-hal yang memang hanya datang satu kali, tidak terganti.—hlm. 5
Rinjani seorang janda yang ditinggal oleh suaminya ke surga karena sebuah kecelakaan. Dengan berbagai masalah yang tertinggal, pula masalah lain yang datang setelahnya. Rinjani mengalami duka mendalam selama setahun lebih. Kualitas kerjanya pun menurun, serta muncul mimpi-mimpi buruk di setiap malamnya. Kehilangan orang yang kita cintai memang sulit untuk bangkit kembali. Apalagi, ia dihantui oleh surat-surat tanpa keterangan pengirimnya dan surat itu membahas tentang suaminya, Andre.
Ada yang bilang bagian terburuk dari kehilangan sesuatu atau seseorang bukanlah kehilangan atas sesuatu atau seseorang itu, melainkan kehilangan bagian dari diri kita, lantaran ikut terbawa pergi.—hlm. 13
Beruntung ia mempunyai Abbas, rekan kerja yang begitu peduli dengannya. Pertemuannya dengan Tata di acara night run, membuat pikiran-pikiran yang selama ini memenuhi kepalanya sedikit menemui titik terang. Ia menemui pelarian dari masalah-masalahnya. Lari. Lari dari kenyataan dan lari dalam artian berlari.
Disonansi dalam novel ini, berlari untuk mengalihkan perhatian.
Berlari, membawanya mengenal seorang penulis bernama Oktober Banyu aka Okto sekaligus koordinator kegiatan night run. Setelah Tata, Rinjani mendapatkan berbagai informasi tentang lari dari Okto. Komunikasi antara mereka mengalami pasang-surut, dan bukan berarti Okto harus menyerah.
Novel ini mengangkat olahraga lari sebagai salah satu cara untuk menyembuhkan diri dari pikiran-pikiran buruk. Ya, memang ada beberapa bahkan banyak orang yang menggunakan lari sebagai cara mereka untuk menekan emosi. Dengan berlari, selain bisa membakar lemak, juga bisa meningkatkan perasaan gembira. Berlari bisa membuat Rinjani berpikir dan mengenang sambil berlari, juga belajar untuk memahami dirinya sendiri, melepas segala hal yang membuat ruwet pikiran. Dengan berlari, Rinjani mewujudkan mimpinya bersama Andre, ke Bromo. Berlari adalah mengikhlaskan.
“Running is Releasing”—hlm. 245
Membangun keluarga yang harmonis memang tidak mudah. Bukan hanya tentang suami-istri, namun juga mertua-menantu. Pembaca diajak untuk menyelami masalah keluarga yang sering ditemui di masyarakat. Penulis menyisipkan pesan dalam kehidupan Rinjani tentang tolok ukur kesuksesan membangun rumah tangga.
Anak bukanlah satu-satunya tolok ukur kesuksesan berumah tangga. Ya, anak adalah salah satu sumber rezeki. Rinjani dihadapkan pada cobaan tak kunjung ‘isi’. Ibu Mertua, selayaknya seorang ibu atau pun nenek, ingin segera memiliki seorang cucu. Apalagi untuk keluarga keraton, anak adalah penerus. Dengan tak kunjung ‘isi’ bukan berarti tidak sukses dan tidak harmonis rumah tangganya, bukan berarti perempuan yang selalu salah. Harus dilihat dari dua sisi, sisi istri dan sisi suami.
Ternyata novel ini memberiku ilmu tentang kehidupan berumah tangga.
Pembaca disuguhi sebuah cerita dengan alur maju-mundur dengan cara yang rapi. Mengandung banyak kejutan yang membuat pembaca jadi penasaran, terutama identitas pengirim surat misterius. Penasaran nggak, sih?
Aku kagum dengan informasi yang diberikan oleh penulis mengenai lari, entah dari sejarah sampai rute Bromo Marathon. Suka dengan ide penulis tentang disonansi. Btw, aku baru tahu tentang disonansi. Tuh kan, dengan membaca kita dapat ilmu baru.
Jadi, jika kalian pengin tahu tentang disonansi, lari, dan ilmu berumah tangga, aku rekomendasikan novel ini.
Habis baca novel ini, aku jadi pengen lari.
Banyak kalimat quote-able yang sayang untuk dilewatkan…
“Tapi untungnya Tuhan nggak pernah mempertemukan kita dengan berbagai macam manusia di berbagai macam situasi tanpa tujuan, Jan. ‘Kebetulan’ bukanlah istilah yang dipakai Tuhan,”—hlm. 37
“Yang menarik tentang menulis fiksi adalah aku bisa teriak tanpa menimbulkan kegaduhan, menjadi orang lain tanpa teracuni kepalsuan, dan memulai sesuatu dengan akhir yang kutentukan sendiri.”—hlm. 98
Tawa keras bisa menjadi kompensasi atas kesedihan berkepanjangan yang menyesakkan, pembicaraan pointless tanpa henti bisa menjadi indikator perasaan gugup, membangkang terus-terusan bisa menjadi manifestasi kekecewaan akan kurangnya perhatian.—hlm. 166
“Only love can hurt us. If it doesn’t hurt, then it’s not love.”—hlm. 187
“Dreaming is believing, honey. …”—hlm. 212
Keleluasaan hati untuk merelakan dan memaafkan agar kelak bisa melangkah lebih ringan dibanding sekarang. –hlm. 238

Tidak ada komentar:
Posting Komentar