Judul: A Monster Calls
Penulis: Patrick Ness
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (terjemahan)
Tahun: 2016
Tebal: 216 halaman
Blurb:
Sang Monster muncul persis lewat tengah malam. Seperti monster-monster lain.
Tetapi, dia bukanlah monster seperti yang dibayangkan Conor. Conor mengira sang monster seperti dalam mimpi buruknya, yang mendatanginya hampir setiap malam sejak Mum mulai menjalani pengobatan, monster yang datang bersama kegelapan, desau angin, dan jeritan... Monster ini berbeda. Dia kuno, liar. Dan dia menginginkan hal yang paling berbahaya dari Conor.
DIA MENGINGINKAN KEBENARAN.
______
Conor, anak broken home yang hidup berdua dengan ibunya dalam rumah yang sederhana. Ia mempunyai seorang nenek tangguh. Tapi, Conor tidak menyukainya karena ia suka menyuruh dan melarang-larang. Semuanya baik-baik saja, sampai suatu saat ibu dan ayahnya bercerai, serta beberapa waktu kemudian ibunya mengidap kanker.
Tidak masalah bagi Conor bila semua tidak membuatnya kehilangan teman ataupun jadi bahan perundungan oleh temannya. Conor anak yang baik. Ia akan datang bila ibunya membutuhkan bantuan, bahkan ia bisa menyiapkan sarapan sendiri di pagi hari sebelum berangkat sekolah.
Suatu ketika, malam hari mimpi buruk datang pada Conor. Sebagian mimpi itu berupa monster. Ia bertemu dengan monster Pohon Yew di belakang rumahnya. Sejak saat itu, tiap pukul 00.07 ataupun 12.07, ketika Conor memikirkan Monster itu, monster itu akan datang pada Conor. Menceritakan berbagai kisah, hingga yang terakhir ingin mendengar kisah dari Conor. Kisah kebenaran dari Conor.
Dari kisah-kisah yang diceritakan oleh sang monster, tersimpan pelajaran hidup. Mula dari kisah seorang pangeran, pendeta, hingga seseorang yang ingin dilihat. Menjadi seorang yang bijaksana, bagaimana cara menggunakan haknya, bagaimana seharusnya kita berdahapan dengan orang, bagiamana caranya kita baik ke orang lain.
Kisah utama dan konflik utama dari novel ini adalah perasaan atau emosi Conor. Tapi, dengan hadirnya si monster, membuat kisah ini jadi lebih berwarna dan penuh amanat.
Di sekolah, Conor mendapatkan perlakuan tidak adil oleh teman-temannya hanya karena mengetahui bahwa Ibunya pengidap kanker. Namun, Conor tetaplah anak baik. Ia hanya ingin menyembunyikan fakta yang telah ia ketahui untuk dirinya sendiri agar ia tetap kuat menjalani harinya.
Akhirnya, dengan dorongan moral dari sang monster, Conor mengakuinya. Conor tak lagi membohongi dirinya sendiri. Ya, Conor tidak sedang baik-baik saja. Conor tahu ibunya tidak akan hidup lebih lama dan Conor tidak ingin kehilangan ibunya.
Cerita ini tidak seram seperti yang aku bayangkan. Ya, kehadiran monster itu bikin suasana seram. Namun ternyata, kisah dibalik semua ini adalah kehidupan remaja Conor yang penuh cobaan.
Satu lagi yang bikin buku ini seram, ilustrasi. Ilustrasi monsternya hitam dan seram. Saat membaca buku ini, aku selalu menghindari untuk menatap ilustrasinya.
Menarik dan penuh pelajaran. Cocok dibaca oleh anak-anak dan remaja.
Kau tidak menulis hidupmu dengan kata-kata, kau menulisnya dengan tindakan. Apa yang kau pikirkan tidaklah penting. Satu-satunya yang penting adalah apa yang kau lakukan. ―hlm. 202
Rated: 3/5 ⭐
Saya baca: 25 Februari - 5 Maret

Tidak ada komentar:
Posting Komentar