Sabtu, 13 Juni 2020

Ulasan Buku: peREmpuan (sekuel Re:)

Untuk yang penasaran tentang Melur, buah hati Re:


Judul: PeREmpuan
Penulis: Maman Suherman
Penerbit: Pop (Imprint KPG)
Tahun: 2014
Tebal: vi + 189 halaman
ISBN: 9786026208323

Blurb:
Dua puluh enam tahun setelah kematian Re:, Melur kembali ke tanah air dengan gelar Ph.D tersandang di belakang namanya.

Sejumlah tanya ia bawa pulang: Siapa sebenarnya ibu kandungnya? Betulkah ibu kandungnya diperjualbelikan, dipaksa menjadi pelacur lesbian? Apa penyebab kematian ibunya yang teramat tragis itu?
Herman menyambut kedatangan Melur dengan risau. Haruskah rahasia yang ia pendam lebih dari seperempat abad itu diungkap? Tidakkah hal itu akan memicu Melur untuk membalas dendam?
Mengapa buku kehidupan perempuan harus sarat seloka luka?
_____

Jika buku pertama 'Re:' menjelaskan tentang Re: dan kehidupannya, maka 'PeREmpuan' menjelaskan kehidupan setelah Re: meninggal.

Dalam buku sekuel ini, membahas mengenai rindu, sejarah tentang Melur, Herman bertemu dan berdialog dengan Melur, serta posisi Melur di kehidupan Herman.

Melur sudah tak lagi anak-anak, Melur dewasa sudah mapan dengan kehidupan suksesnya di Jepang. Sekolah sampai tinggi, S3. Seorang anak pelacur, bisa sekolah tinggi dan sukses. Melur yang sudah dewasa, tentunya dengan otak dewasanya, sudah tak bisa dibohongi lagi. Banyak pertanyaan Melur untuk Herman, hingga mengenai hal balas dendam atau hukum pemidanaan.

Herman menyerah, sedangkan Melur tambah menjadi.

Selama membaca novel ini, yang aku rasakan adalah betapa rindunya Herman terhadap Re:, betapa rindunya Melur pada Re:, serta rasa besar hati yang dimiliki Re:.

Begitu banyak pelajaran tentang kehidupan yang bisa kita petik dengan membaca novel ini. Salah dua di antaranya adalah besar hati dan syukur. Cinta memang luar biasa dahsyat. Aku terharu dengan keluasan dan kebesaran hati Sekar sebagai istri sah Herman, karena tiap hari Herman selalu merindukan Re:.

Selain itu, aku bisa merasakan betapa besar rasa cinta Herman―sebagai ayah kepada anak-anaknya, Nurul, Muhammad, bahkan kepada Melur yang tidak ada hubungan darah dengannya. Aku jadi melow sendiri dan mengingat meskipun anak sudah besar dan dewasa, pastilah setiap hari ada rasa khawatir orang tua terhadap anaknya.

Ada banyaaaak petuah dan kata-kata yang bisa kita jadikan quotes atau penyemangat atau reminder. Salah empat yang aku suka adalah:
"Rasa asin, kecut penderitaan yang kita alami itu sangat bergantung dari besarnya hati yang menampungnya," ... "Kalau hatimu hanya sebesar gelas, asin derita itu akan sangat kau rasakan. Tapi kalau seluas danau, tak lagi asin itu kau rasakan," ... ―hlm. 23
"Kamu mau terus membenamkan diri dalam perasaan sebagai orang yang paling sial dan sengsara di muka bumi ini, atau masih mau menghargai sekecil dan sesederhana apa pun yang namanya kelezatan itu." ―hlm. 104
... "Ibumu bilang, banyak orang yang menyukai gelap. Seperti banyak orang menyukai kopi, pahit tapi nikmat. Tanpa gelap, kita tak mungkin melihat indahnya kerlip bintang-bintang di langit. Tanpa gelap, tak mungkin ada istirahat dan tidur malam yang nyenyak." ―hlm. 158
"Banyak keindahan yang bisa dinikmati dalam gelap. Gelap membuatmu mensyukuri cahaya. Sekecil apa pun cahaya itu," ... ―hlm. 158
Namun, sayang banget, ada beberapa salah ketik atau beberapa kesalahan ketik yang lolos dari screening editor. Tidak banyak, tapi menurutku agak mengganggu meski tidak mengganggu konsentrasiku pada cerita.

Dan, sama seperti ketika aku membaca buku pertama 'Re:', aku menangis dibuatnya. Jadi, siapkan hati kalian.

Oh iya, buat kalian yang ingin baca novel ini dengan low budget, kalian bisa baca seri-nya di aplikasi perpustakaan digital iPusnas. Kalian bisa ketik Maman Suherman di kolom pencarian, dan akan muncul novel 'Re:'. Dikarenakan novel 'PeREmpuan' sulit pencariannya di iPusnas, kalian bisa cari akunku yang bernama Nur Afifah di daftar peminjam novel 'Re:, kemudian kalian bisa cari novel 'PeREmpuan' di kolom riwayat pinjamanku.

Atau kalian bisa cari novel 'PeREmpuan' di aplikasi iJak.

Semoga membantu.

Beberapa quotes lain, aku share di bawah ini.
"Ukuran terindah cinta adalah mencintai tanpa pernah mengukurnya."―hlm. 54
"Kita terlahir tanpa membawa apa-apa, tak punya apa-apa. Mengapa mesti mengaku kehilangan? Semua hanya titipan. Namanya juga titipan, bisa diambil kapan saja," begitu kata Re: tanpa ragu sedikit pun. ―hlm. 37
"Kita tidak hidup dari pertanyaan orang lain. Kita harus hidup dari jawaban-jawaban kita sendiri atas semua persoalan hidup." ―hlm. 36

Rated: 4,5/5⭐
Baca: 21-23 Februari 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar