Februari selalu menjadi penanda. Februari selalu menghadirkan kado spesial. Sayangnya, kado spesial tidak pernah berkonotasi baik. ―hlm. 46
Judul: Februari: Ecstasy
Penulis: Devania Annesa, Ari Keling, Ayu Welirang
Penerbit: Grasindo
Tahun: 2015
Tebal: viii + 200 halaman
Blurb:
Mayang
Napasku memburu. Bayangan Nugie mati di tanganku mulai berputar. Bagaimana aku bisa membunuh dia? Aku tumbuh besar bersamanya. Aku mencintainya.
Nugie
Joya terus menatapku. Kutatap dia jauh lebih dalam, bila perlu sampai menembus hatinya. Biar aku bisa menetap di sana. Ya, aku harus bisa menguasai Joya.
Joya
Kubakar ujung lintingan yang lebih besar, kuisap dalam-dalam asap oragnik itu. Sejenak aku lupa akan Nugie dan Mayang. Kalau aku boleh meminta, aku ingin melupa semuanya.
Mayang, Nugie, dan Joya dicurigai sebagai pembunuh Sukoco, Sang pemimpin Geng dan juga merupakan ayah Nugie. Si kembar Mayang dan Joya dibesarkan Sukoco setelah pria itu membunuh kedua orang tua mereka 12 tahun lalu. Tapi, semua orang juga tahu, Nugie sangat membenci ayahnya sendiri. Hanya ada satu pemimpin yang boleh menguasai seluruh rusun. Mereka bertiga hanya punya dua pilihan, membunuh atau terbunuh.
_____
Hidup di dunia gelap dan ilegal itu berbahaya. Namun, berbahaya lagi bila hidup di tengah-tengah geng dengan ketua yang sangat disegani oleh anggota maupun anak buahnya. Mayang, Nugie, dan Joya hidup dan dibesarkan di bawah naungan geng Sukoco. Geng gelap perdagangan ilegal obat-obat terlarang yang ditakuti oleh geng sejenis lainnya.
Seperti sebuah organisasi biasanya, ketua akan berpindah tangan apabila ketua yang sedang menjabat turun jabatan ataupun mati, maka akan terjadi pergantian ketua atau memilih ketua baru. Mayang, Nugie, dan Joya adalah tiga penerus tahta ketua geng. Mereka hidup dalam kata membunuh atau terbunuh. Membunuh untuk menjadi ketua, atau terbunuh untuk mati.
Mayang, wanita seksi dan terkuat di geng Sukoco. Cerdas, berani, dan penuh ambisi. Masa lalunya membawanya menjadi anak yang disukai oleh Sukoco, ketua Geng.
Nugie, anak semata wayang Sukoco. Paling benci kepada Sukoco, ayahnya sendiri. Masa lalu mendidiknya menjadi lelaki yang garang dan punya ambisi membunuh ayahnya sendiri.
Joya, saudara kembar Mayang yang memiliki sifat berbanding terbalik. Joya cantik, namun tomboy dan lebih suka nge-fly daripada berantem. Masa lalu membuatnya menjadi wanita kuat, pemberani, dan menyayangi saudara kembarnya.
13 Februari, Sukoco mati. Mati karena teracuni dan ketiga calon penerusnya saling curiga mencurigai.
Saatnya 'Membunuh atau Terbunuh' di antara Mayang, Nugie, dan Joya. Namun, adegan yang seharusnya penuh darah dan ambisi itu ternodai dengan kisah asmara. Mayang secara terang-terangan menyukai Nugie dengan rela jadi jalangnya, namun Nugie malah menyukai Joya. Sedangkan Joya, menyukai Mayang. Nah loh...
Jadi, siapa yang berhasil menjadi ketua baru Geng Sukoco? Bagaimana dengan kisah romansa mereka? Dan, mengingat kematian Sukoco yang penuh misteri, siapa pembunuhnya?
Darah, darah, darah. Darah ada di mana-mana
Gilaaa, andaikan aku jijik sama darah, mungkin setelah baca novel ini aku bakalan nggak selera makan. Beuh, nyata dan ala film action banget adegan-adegan bunuh-bunuhannya. Dari awal sama akhir cerita, nggak ada yang namanya berhenti bertemu dengan darah.
Latar cerita berada di rusun khusus para pelaku perdagangan ilegal obat-obatan terlarang di Jakarta. Tempat di mana para preman-preman berada. Latarnya sangat mendukung konflik. Alur yang digunakan maju-mundur untuk mendukung emosi dan latar belakang tokoh utama.
Novel 'Februari: Ecstasy' adalah novel Thriller-Mistery ditulis oleh 3 penulis Devania Annesa, Ari Keling, Ayu Welirang. Sama dengan novel yang saya baca sebelumnya, masing-masing penulis mengambil masing-masing tokoh dan bercerita sesuai dengan tokoh tersebut, sehingga ada 3 sudut pandang 'aku' orang pertama. Dari sudut pandang Mayang, Nugie, dan Joya. Meski begitu, gaya penulisan dari ketiga penulis nggak jauh berbeda. Bila dibandingkan dengan novel '' yang sudah saya baca, novel 'Februari: Ecstasy' lebih hidup, lebih menarik, minim plothole, dan romance-nya tidak begitu dominan. Namun, ada begitu banyak adegan yang terulang di setiap pergantian tokoh yang justru membuatku melompati beberapa paragraf.
Sepanjang cerita, aku dibuat deg-degan dengan adegan action ataupun bunuh-bunuhannya. Serta dibuat terkejut dengan kejutan di akhir cerita. Hehehe awalnya agak ada yang aneh dengan kematian Sukoco, namun ketika aku melanjutkan membaca, aku dibuat lupa dengan kecurigaanku. Ya, saling tuduh, emosi, dan ambisi Mayang, Nugie, dan Joya membuatku lupa akan kecurigaanku.
Hidup dalam balas dendam itu nggak baik bagi kesehatan hati, pikiran, dan masa depan, guys. Mencintaipun begitu, yang sewajarnya. Menjadi berani membela kebenaran adalah hal yang bagus. Jadi cerdas dan berpikir berkali-kali ketika ingin bertindak dan berkata. Itu adalah beberapa hal yang aku pelajari dalam cerita ini.
Aku suka. Di balik cover yang lucu, mengandung cerita yang penuh darah.
Aku rekomendasikan buat kalian yang suka baca kisah thriller-romance-mistery, bunuh-bunuhan, dan buat kalian yang nyari rekomendasian bacaan.
Jika saja hidup punya masa berlaku, maupun masa tenggang, aku ingin sekali meilih untuk tak berlaku dahulu. Melewati masa tenggang hidup yang mungkin bertahun-tahun lamanya sampai aku terlahir baru. ―hlm. 27
Ada hal-hal yang ingin aku lupakan―saat-saat di mana aku merasa dunia tidak adil dan tak ada seorang pun yang menuntut keadilan untukku.―hlm. 159
Rated: 4/5 ⭐
Baca: 19-20 Februari 2020

Tidak ada komentar:
Posting Komentar