Kali ini aku hadir membawa sebuah buku rekomendasi buat teman-teman baca dan ambil banyak pelajaran yang tersirat maupun tersurat dari novel ini.
Indentitas buku:
Judul : A Moment to Decide: Oppa Meets Santri K-Pop
Penulis : Dian Dhie
Penerbit : Penerbit Indiva
Tahun : 2018
Tebal : 288 hlm
ISBN : 978-602-570-108-5
3,5⭐ /5⭐
Baca novel ini berasa baca buku pedoman tentang menikah secara islami dalam bentuk novel. Ya, maksudku novel islami tapi tidak islami di sini adalah yang dibahas itu menyangkut budaya islam, tapi tidak terlalu fanatik. Sesuai dengan masalah yang dihadapi, novel “A Moment to Decide” ini tentang asmara anak-anak milenial.
Lee Joo Hwon adalah seorang mualaf Korea yang kemudian mutasi kerja ke Indonesia untuk mendalami Islam di antara kesibukan kerjanya. Ia pun disarankan oleh seorang rekan kerjanya untuk belajar di pesantren di Bogor. Pada pertama kali ia pergi ke pondok pesantren di Bogor itu, ia hampir saja menabrak seorang santri perempuan berjilbab putih pula dengan gamisnya yang besar. Cinta pada pandangan pertama, begitu ceritanya. Tapi ada satu hal yang ditangkap oleh Lee Joo Hwon ketika hampir menabrak santri itu. Jatuh sebuah kaset dengan cover boyband SUPER JUNIOR. Lee Joo Hwon pun mengingatnya sebagai gadis SUPER JUNIOR.
Lee Joo Hwon belajar tentang Islam di pondok pesantren kepada Ustad Agus dan Ustad Ahmad. Hingga ia sampai pada bab mengenai menikah, ia pun terpikirkan untuk segera menikah karena sudah mapan. Dengan bantuan Ustad Ahmad, ia dipilihkan calon istri. Kalau jodoh memang nggak bakal kemana-mana, Joo Hwon dipertemukan kembali dengan gadis SUPER JUNIOR itu, yang ia ketahui bernama Riana Rahmawati. Dan, kejutan tidak sampai di situ saja, ternyata Riana adalah putri Ustadnya. Dramatis, kebetulan, tapi kata Joo Hwon ini sudah jalan-Nya. Bukan sebuah kebetulan. Allah telah mengatur semuanya.
Ustad Ahmad menyetujuinya, begitu pula dengan Ummi (istri Ustad Ahmad). Tapi Riana, ia meragukannya, karena suatu hal yang menurutku egois. Tapi karena ia sosok yang tidak pernah membantah kemauan orang tuanya ia pun mau dijodohkan dan menjalani taaruf. Ustad Ahmad pun mengatur jadwal taaruf. Karena suatu kesalahpahaman, taaruf itu gagal berkali-kali. Hingga Joo Hwon mengatakan yang sesungguhnya kepada Ustad Ahmad. Tak menunggu waktu lama, Riana pun menikah dengan Joo Hwon.
“Sebaik-baik wanita adalah maharnya ringan, Tuan. Begitulah Haditsnya.” –hlm. 79
“Perumpamaan wanita seperti tulang rusuk. Bengkok dan rapuh. Jika dipaksakan lurus akan patah. Letaknya di dekat jantung agar kau bisa menyayanginya, bukan di kaki untuk kau tindas atau di kepala untuk kau tuankan.” –hlm. 135
Ternyata eh ternyata… kehidupan setelah menikah pun lebih rumit. Mulai dari pihak dalam, maupun pihak luar. Tentunnya apapun masalah yang disuguhkan dalam kisah ini, semua tidak lepas dari solusi Islam. Riana pun menjadi semakin dewasa, begitu pula dengan Joo Hwon yang semakin kuat imannya. Tidak hanya itu, teman makan teman juga dibahas di sini. Pokoknya ceritanya penuh dengan pembelajaran untuk kita semua.
“Rani, Ummiku pernah bilang, jika kau tidak ingin sakit hati di dalam hidupmu, kau tidak boleh menolak dua hal.” …. “Pertama, sesuatu yang datangnya dari Allah. Apa yang diajarkan agama tidak boleh kau tolak. Kedua, sesuatu yang datang dari orang tua. Orang tua yang baik seperti yang dikatakan agama akan menuntunmu pada kebaikan, jadi kau tidak boleh menolak petunjuk dari orang tuamu.” –hlm. 267
Sudut padang yang digunakan oleh penulis adalah POV orang ketiga serba tahu. Aku rasa cocok sekali dengan kisah ini yang menonjolkan kepribadian yang berbeda antara tokoh utama. Tokoh utama dalam novel ini tidak hanya fokus pada Lee Joo Hwon seperti yang aku kira di awal, tapi juga si Santri K-Popers, Riana. Lee Joo Hwon di novel ini digambarkan sebagai pria dewasa yang sudah matang, matang jasmani maupun rohani. Sosok Joo Hwon telah menamparku secara tidak langsung pas baca novel ini. Jadi merasa malu karena kalah dalam ilmu tentang agama, padahal Joo Hwon adalah seorang mualaf.
Riana adalah tokoh utama kedua, sebagai pendamping Joo Hwon, yang memerankan peran penting dalam menyampaikan pelajaran tentang pernikahan padaku. Ya, bisa dibilang Riana ini sedikit mirip dengan diriku. Nggak neko-neko, selalu patuh sama orang tua, meski agak nakal tapi masih tahu batas mana seharusnya sesuatu tidak untuk dilakukan. Riana ingin hidup bebas sesuai dengan kemauannya, selayaknya remaja pada umumnya. Ya, meski bisa dibilang Riana bukan remaja lagi. Tapi aku maklum dan aku rasa karakter Riana ini sesuai dengan karakter cewek-cewek baik yang ada saat ini.
Sama dengan tokoh Rani dan Anisa, teman Riana. Mereka remaja yang sesuai dengan fakta seperti apa anak-anak pondok yang setengah hati masuk pondok. Melanggar aturan dan nakal. Intinya di novel ini tidak ada yang dilebih-lebihkan, semua seperti natural, sesuai dengan fakta. Jempol buat penulisnya!
Ada yang sayang banget sih, aku kok penasaran sama Ustad Agus. Apa yang membuatnya gagal melamar Riana. Aku tunggu-tunggu di cerita ini, ternyata porsi kemunculan dan keikutsertaannya hanya sedikit. Jadi penasaran bagaimana kisah asmara Ustad Agus. Soalnya aku juga mau dong kalau tiba-tiba Ustad Agus melamarku. Eaaaaaaaak~~ mimpi dulu deh.
Latar tempatnya muter-muter di sekitar Jakarta dan Bogor. Selain itu yang paling special yaitu bulan madu di Seoul. Dalam novel ini suasananya islami. Jadi setiap ada sesuatu, Islam selalu menyelimuti kehidupan yang ada di novel ini. Nah, oleh karena itu alasan mengapa aku bilang novel ini novel islami yang tidak kentara.
Alur yang digunakan adalah alur maju. Awalnya nggak terlalu lambat atau normal-normal saja, tapi ada saat dimana tiba-tiba sudah skip beberapa bulan dan itu menurutku agak membingungkan karena aku harus mikir, ini udah berapa bulan kemudian, ini berarti waktu apa, seperti itu. Namun, kalau kalian pembaca yang tidak terlalu mementingkan atau memperhatikan hal itu, tidak terlalu memerhatikan perubahan waktu, masalah ini tidak menjadi masalah. Kalian masih bisa menikmati cerita.
Ide cerita aku suka banget. Jarang ada penulis yang mengangkat tema dan isu yang up-to-date. Sekarang lagi jamannya remaja perempuan yang mengidolakan oppa-oppa Korea, banyak yang membahas tentang Drama Korea dan Pop Korea. Hebatnya lagi, penulis menyampaikan idenya dengan asik dan sesuai fakta, alias tidak melebih-lebihkan. Menghubungkannya dengan Islam dan aturannya. Apalagi dengan menghadirkan Oppa yang seiman.
Begitu juga dengan konflik. Sederhana, sesuai dengan fakta yang ada, masalah umum, dan solusi yang diberikan di tiap masalah benar-benar solutif. Konflik dalam novel ini berbeda dengan novel dengan tema kehidupan pra-menikah dan pascamenikah lainnya.
Pertama kali lihat covernya aku kira ini novel romance biasa dengan tokoh oppa dari Korea dan ketemu dengan santri yang suka K-Pop, kemudian santri itu ngejar-ngejar Oppa tersebut. Ternyata BIG NO!
Huruf yang dipakai berbeda dengan novel lainya. Aku baru pertama kali ini baca novel dengan font huruf yang tinggi-tinggi dan kurus. Ukuran hurufnya sudah cukup menurutku. Tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar.
Awal bab pertama baca ini agak kurang menarik karena aku pikir mungkin ceritanya bakal flat tentang Joo Hwon saja. Tapi ternyata setelah tahu usaha Riana dan teman-teman—karena kesalahpahaman—buat batalin taaruf membuatku tertawa cekikikan. Lucu dan menghibur. Lalu yang paling menarik menurutku adalah adegan dimana ada kesalahpahaman di antara Joo Hwon dan Riana, membuat mereka bertengkar dan aku bisa melihat kedewasaan Joo Hwon, di sini saya belajar tentang kehidupan pernikahan menurut islam. Dan aku sejauh ini yang sudah berusia 20++, baru tahu tentang aturan islam yang seperti ini.
Sesuai dengan yang aku katakan di awal, buku ini seperti buku pelajaran fiqih yang berbentuk novel, bukan dalam bentuk kitab berbahasa arab dengan terjemahan huruf pego—kalau tidak salah penyebutan nama—bahasa Jawa. Di novel ini disuguhkan berbagai pelajaran tentang hak dan kewajiban menjadi seorang istri dan seorang suami, menjadi wanita yang baik, menjadi laki-laki yang baik, adab bertamu, dan banyak lainnya tentunya dari kacamata islam. Aku baru tahu ternyata solusi agar terhindar atau menahan dari marah dan hasrat seorang suami kepada istri atau sebaliknya adalah dengan berpuasa. Setelah dipikir-pikir, benar juga.
Asal kalian tahu, berdasarkan cerita ini aku bisa mengambil simpulan bahwa menikah bukan berarti semakin terkekang dan kunci utamanya adalah komunikasi.
Untuk kalian yang dewasa muda, K-Popers, penggemar K-Drama, yang masih SMA, belajar agama, ingin ilmu tentang pernikahan, ingin memperbaiki diri, ingin tahu cara pandang lain tentang pernikahan, kalian WAJIB baca novel ini! Sangat aku rekomendasikan!
Read: 5 - 6 Januari 2019

Tidak ada komentar:
Posting Komentar