Selasa, 02 Juni 2020

Ulasan Buku: The Man Who Plays Piano

“Aku telah jatuh cinta… sebelum bertemu dengannya”




Judul : The Man Who Plays Piano

Penulis : Rufin Dhi
Penerbit  : Roro Raya Sejahtera (Imprint Twigora)
Tahun terbit : 2018
Tebal : iv + 236 hlm
ISBN : 978-602-512-901-8

3,6⭐ /  5⭐

Baca novel ini jadi kangen masa-masa kuliah. Pengin balik kuliah lagi. Pengin jadi mahasiswa yang kadang kupu-kupu, kadang kunang-kunang, kadang juga kura-kura lagi. Seru banget lho masa kuliah itu. Coba deh baca novel ini, pasti berasa jadi anak kuliahan. Cerita ini nggak melebih-lebihkan apa yang ada di dunia anak kuliahan. Murni gaya anak kuliahan.

Anka—tokoh “aku”—adalah seorang pendiam, jarang bergaul, bahkan lebih suka berada di tempat sepi seperti perpustakaan fakultas yang letaknya ada di gedung bagian belakang kampus. Ia juga suka piano, lebih tepatnya alunan piano. Jika ia mendengar piano, maka ia akan ingat pada adiknya—Erika, bisa bermain piano dari kecil—yang sedang menderita Leukimia, jadi berhenti main piano. Kebetulan hari itu Anka sering mendengar alunan piano dari gedung sebelahnya. Ia pun penasaran dan karena suka dengan permainan piano itu, ia pun merekam suaranya tanpa sepengetahuan si pemain piano. Tenang, Anka sudah minta izin ke Tuan Pianis–begitu Anka memanggilnya—melalui surat yang ia letakkan di meja dekat pintu riangan itu atas nama Nona Pengagum. Jadi ceritanya mereka berdua ini sama-sama tidak tahu muka masing-masing, tapi mereka berkomunikasi melalui surat. Manis kan, ya? Hingga Anka merasa ada rasa yang meletup-letup di hatinya ketika menyinggung Tuan Pianis, maupun ketika mendengar permainan piano si Tuan Pianis.


“Halo, Tuan Pianis.Permainan Pianomu indah sekali. …”

Anka mempunyai seorang sahabat yang seratus delapan puluh derajat berbeda darinya. Winona namanya, gadis primadona di kampus. Pria model apapun pasti tertarik untuk dekat dengan Winona. Bedanya lagi, Anka suka espresso, sedangkan Winona suka caramel macchiato. Kalau bisa dibilang Anka ini mirip sama aku :D Tapi tak disangka-sangka persahabatan mereka perlahan ada tangan yang siap membuka tali ikatan itu. Dimulai dari perbincangan mereka di café kampus mereka, kemudian mengenal teman-teman Winona serta orang yang Winona sukai. Mereka adalah Bastian, Rizzi, dan Dirga. Sebuah prestasi besar untuk Anka, ia punya teman baru. 

Winona bercerita dari awal suka dengan Dirga, tapi Anka mewanti-wanti Winona agar tidak melanjutkan perasaannya pada Dirga karena Anka adalah teman sekelasnya yang otomatis tahu rumor-rumor yang beredar tentang Dirga. Ya, Dirga dicap sebagai mahasiswa jarang masuk dan suka bertengkar. Nggak cocok sama Winona yang cantik itu. Mahasiswa-mahasiswi, jika duduk bersama, ngobrol dengan ceria, pasti akan menumbuhkan rasa nyaman. Di antara mereka ada benih-benih cinta yang tumbuh. 


“Kamu juga udah bikin aku suka sama kamu, Anka.” –hlm. 75

“Bastian, apakah kamu tahu tentang… Tuan Pianis?” –hlm. 139


“Aku nggak menyangka kamu Nona Pengagum itu, Anka.” –hlm. 140

Puncak konfliknya, Anka ditipu oleh orang-orang terdekatnya, menyangkut Tuan Pianis tentunya, membuatnya terkejut tidak percaya dengan yang terjadi setelah mengetahui fakta-faktanya. Anka menangis kecewa, dan lebih menyedihkan lagi mengetahui adiknya kritis. Ia juga kehilangan persahabatannya dengan Winona. Hari-hari Anka semakin memburuk, dan semuanya buruk. Apakah cerita ini berakhir sad ending? Enggak dong. Cerita ini happy ending. Ada sosok penyelamat Anka yang membujuk Anka bangkit dan mencerahkan hati Anka.


“Kamu tahu, nggak, rasanya dibohongi ketika sudah benar-benar percaya? Kamu tahu, nggak, rasanya ketika kita jatuh cinta karena merasa dicintai, tetapi ternyata kamu nggak pernah dicintai? …” –hlm. 198.


“Kamu bilang kebohongan itu untuk membantuku?” –hlm. 198

Awal aku baca cerita ini sih datar dan agak lebay di surat-menyurat. Kalau jadi aku sih bakal aku foto itu si Tuan Pianis. Tapi dipikir-pikir lagi kalau nggak pake surat-suratan, ceritanya nggak bakal bisa semanis ini. Apalagi ini menyangkut adik Anka, Erika, dan tentunya kemisteriusan sosok Tuan Pianis. Mudah ditebak dong siapa itu Tuan Pianis. Tapi, aku terkejut ketika ada seseorang di tengah-tengah cerita yang kemudian menggoyahkan tebakanku. Etdaaaah…. Ternyata cerita ini bikin terkejut juga sama konfliknya. Bisa dibilang plot twist nggak sih? Jadi ikut emosi dan pengin ngelempar leptop ke muka Winona. Ups!

Penggunaan sudut pandang orang pertama “aku’ di sini tepat sekali. Dengan melihat pilihan konflik dan menyembunyikan fakta yang ada demi bikin cerita yang ada kejutannya, POV orang pertama “aku” sukses. Karakter yang dibuat penulis juga kuat. Suka banget sama tokoh Anka. Dia sosok wanita kuat dan mandiri yang patut dicontoh. Aku juga suka Dirga dengan segala kemisteriusannya. Penulis patut aku acungi jempol karena sukses membuat tokoh antagonis yang kejam abis dan sesuai realita yang ada. Hahaha! Hati-hati dengan orang terdekat Anda pemirsaaah!

Setelah baca novel ini, kisah Anka membuatku bersyukur. DIbalik Anka yang kuat dengan kisah perkuliahan, pertemanan, asmara yang seperti itu ternyata dia adalah seorang yatim piatu, aku bilang sih sebatang kara. Dia kuat dengan cobaanNya. Aku bahkan nggak bisa mikir ini kisah happy ending atau sad ending ya? Kalau menurutku sih sad ending. Tapi jika dilihat melalui kisah asmaranya, happy ending. Intinya di sini aku belajar jadi sosok cewek yang kuat.

Jujur, aku baru sadar dan harus aku akui. Seseorang bisa bijak dalam kata-kata, kata orang sih kayak Mario Teguh, kalau dia sudah dalam posisi terpuruk. Yes, aku menemukannya dalam novel ini. Hampir tiga per empat dari novel ini tidak aku jumpai kata-kata bijak atau quotes. Barulah setelah Anka benar-benar terpuruk, hidupnya jatuh, quotes itu muncul. Suka lah, karena novel ini seperti nyata gitu.


“Jatuh cinta itu… ternyata tidak selalu berakhir bahagia, ya? Aku tersakiti olehnya, dibohongi dan dikhianati. Jika jatuh cinta sesakit ini, lebih baik aku tidak usah memiliki perasaan itu. Lebih baik aku tidak pernah jatuh cinta.” –hlm. 190

Sayang banget, novel ini pakai bahasa “aku-kamu’ yang agak kaku. Anak kuliahan kan biasanya gaul. Jadi bacanya sedikit seperti bahasa formal, apalagi waktu baca narasi. Tapi hal ini ditutupi dengan dialog yang baik, bikin atensi kita terpikir pada emosi tokohnya. Tapi aku yakin ini karena supaya novel terasa apa adanya sesuai fakta, tidak melebih-lebihkan. Aku kalau di kampus juga pakai aku-kamu, kok.

Menariknya novel ini selain isi adalah fisiknya. Nggak tebel Cuma 240-an halaman. Ilustrasi covernya mewakili tema tentang piano dengan latar biru muda dan pink di sampul belakang menarik mataku. Lebih memukau lagi, di tiap lembar ada bintik-bintik seperti bekas percikan air, lucu banget. Kemudian, di setiap masuk bab baru, ada ilustrasi pianonya. Jadi nggak polos gitu tiap halamannya. Suka banget.

Buat yang suka dengan novel genre romance, yang suka manis-manis, yang kepo sama dunia perkuliahan, yang pengen terkejut, yang pengin tahu pelajaran hidup tentang ‘hati-hati dengan sahabat lo’, aku rasa cocok lah baca novel ini!


“Aku heran semua orang seolah takut pada hujan, takut kebasahan. Walapun terkadang tetesan hujan terkadang memang dapat menusuk punggung, kuoikir itu tidak lebih sakit daripada ditusuk diam-diam oleh sahabat yang kamu percayai.” –hlm. 191

Setuju! Setuju nggak?

Terima kasih special untuk penulis Rufin Dhi (ig: @rifihana), penerbit Roro Raya Sejahtera / Twigora (ig: @twigora), dan Kak Ika Mayang (ig: @dumzcharming) yang telah memberi kepercayaan kepadaku untuk belajar dari kisah Anka yang kuat ini secara cuma-cuma melalui giveaway. Sukses selalu!

Ig: @s.nur.afifah
Read: 2 – 3 Januari 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar