Judul: The Book of Tomorrow
Penulis: Cecelia Ahern
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2013
Tebal: 477 halaman
ISBN: 978-979-22-9787-4
Rating: 3,9 ⭐
Blurb:
Tamara Goodwin selalu hidup untuk saat ini, tidak pernah memikirkan apa yang terjadi besok. Sampai suatu ketika, perpustakaan keliling mampir ke desanya yang kecil, membawa buku misterius bersampul kulit dengan kunci emas.
Di halaman-halaman buku itu, Tamara menemukan hal-hal yang mengejutkan dan mengguncang hidupnya.
Inilah kisah tentang bagaimana esok hari dapat mengubah apa yang terjadi hari ini…
The Book of Tomorrow adalah novel karya Cecelia Ahern, penulis P.S I Love You. Aku tertarik baca novel ini karena saat itu sedang mencari buku dengan judul 4 kata. Hasil obok-obok iPusnas, nemu buku ini di kolom rekomendasi, judulnya yang ada kata buku-nya bikin aku tertarik baca.
Covernya kece nggak sih? Setuju? Yap, cocok sekali sama isi novel ini.
“Aku baru kehilangan ayah yang membesarkanku. Aku tidak akan kahilangan yang satunya lagi.” –hlm. 442
Novel ini bercerita tentang Tamara Goodwin yang harus pulang kampung bersama mamanya setelah ditinggal bunuh diri oleh ayahnya. Frustasi dan stress dirasakan oleh Tamara dan mamamnya. Tulang punggung keluarga meninggal dunia, harta benda pun kena sita karena utang sang ayah.
Hingga suatu hari, ia menemukan sebuah buku tanpa judul di perpustakaan berjalan. Butuh usaha keras untuk membuka buku itu, karena terkunci. Kata Suster Ignatius, itu adalah buku diary. Di dalam buku tersebut kertasnya kosong, belum ada tulisannya. Dilihat dari bentuknya, itu adalah buku diary.
BOOM!
Ketika Tamara ingin menulisinya, buku itu malah menulis dengan sendirinya. Keluar tulisan secara ajaib di lembaran kertasnya. Tapi, tanggal yang tertulis bukan hari ini, melainkan besok. Sampai di sini aku merinding bacanya. Serius.
Ternyata novel ini―yang awalnya kukira romance atau masalah remaja dengan gelora cinta membara―adalah novel penuh misteri dengan sedikit sentuhan fantasi.
Buku yang dipegang Tamara membawanya melakukan sesuatu sehingga menuntunnya kepada misteri-misteri yang harus dipecahkan. Rahasia-rahasia pun terungkap. Asli bikin aku melongo, merinding, dan nggak bisa berhenti baca.
Novel ini membawa konflik yang unik; konflik batin atau diri Tamara, dan konflik keluarga orang tua Tamara. Jadi intinya ada yang bucin :’P Tapi, ada pesan yang mengena sekali ke diriku.
“…, tapi buku harian itu membantuku menyadari bahwa ada hari esok. Sebelumnya, aku hanya berkonsentrasi pada saat ini. …. Buku harian itu membantuku melihat bagimana satu hal memengaruhi yang lain. Bagaimana aku bisa sungguh-sungguh membuat perbedaan dalam hidupku dan dalam hidup orang lain. …” –hlm. 473
Sayangnya dari novel ini adalah 100 halaman awal bikin bosen karena full narasi, minim dialog. Dan menurutku, narasi tersebut bisa disingkat. Untungnya aku orangnya sabar kalo baca. Halaman 200 sekian, baru muncul dialog-dialog dan itu langsung aku dibuat merinding sama buku harian itu.
Overall, terjemahannya OK.
Kalau main-main di iPusnas, intip si Tamara Goodwin, ya!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar