Judul: Happiness
Penulis: Fakhrisina Amalia
Penerbit: Ice Cube
Tahun: 2015
Tebal: xi + 223 halaman
Blurb:
“Berarti nggak masalah, dong, kalau Ceria masuk MIPA tapi ambil Biologi?”
“Bisa aja, sih. Tapi kalau kamu tanya Mama, yang banyak hitung-hitungannya itu lebih spesial. Nggak sembarang orang bisa, kan?”
Bagi Mama yang seorang dosen Matematika, hitung-hitungan itu spesial. Mama selalu membanding-bandingkan nilai rapor Ceria dengan Reina—anak tetangga sebelah yang pandai Matematika—tanpa melihat nilai Bahasa Inggris Ceria yang sempurna. Karena itu, sepanjang hidupnya Ceria memaksakan diri untuk emnjadi seperti Reina. Agar Mama dan Papa bangga. Agar ia tak perlu lagi dibayang-bayangi kesuksesan Reina. Agar hidupnya bahagia. Ceria bahkan memilih berkuliah di jurusan Matematika tanpa menyadari ia telah melepaskan sesuatu yang benar-benar ia inginkan. Sesuatu yang membuat dirinya benar-benar bahagia.
______
Kalian pasti pernah disama-samakan oleh orang tua dengan si anak tetangga yang sikapnya atau pencapaiannya berbanding terbalik dari diri kalian. Reaksi dari kalian juga pasti bermacam-macam. Ada yang menyangkal hingga berantem dengan orang tua, pasti ada juga yang merasa kesal dan ingin menandingi si anak tetangga.
Ceria sedari kecil dibayang-bayangi oleh prestasi Reina di bidang matematika. Tetapi, Ceria unggul di bidang bahasanya. Demi bisa membahagiakan dan membanggakan sang orang tua, ia rela mengorbankan bakatnya sendiri. Ia rela berjuang mati-matian demi meraih sesuatu yang bukan kemampuannya.
Beberapa waktu lalu aku melihat unggahan Youtube di Channel Deddy Corbuzier di konten podcastnya, dengan bintang tamunya adalah Kak Seto. Kak Seto bilang yang pada intinya, semua orang itu pintar. Pintar di bidangnya masing-masing. Ada yang pintar di sains, ada yang pintar di bahasa, ada yang pintar di social, ada pula yang pintar basket, nari, dan lain-lain. Tidak mahir dalam suatu hal bukan berarti dia bodoh, tetapi ia mahir di suatu hal yang lain.
Ceria tahu bahwa ia mahir di bidang bahasa, bahkan ia sudah punya mimpinya sendiri. Namun, ia terus-terusan ingin membuat mamanya bangga dengan nilai matematika yang sempurna. Beruntung ia memiliki abang yang perhatian dan punya sudut pandang luas. Farhan selalu mengingatkan adiknya agar tidak terlalu memikirkan ucapan dan keinginan mamanya, dan mendukung penuh pada impiannya yang sesungguhnya.
Siapa juga yang nggak sakit hati ketika orang lain lebih menarik perhatian orang tersayang. Kemahiran Reina menguasai matematika menarik perhatian orang tua Ceria. Bahkan Reina yang cantik menarik perhatian abangnya. Tentunya cara Ceria supaya merebut perhatian orang tuanya adalah dengan memenuhi keinginan orang tuanya, mahir di bidang eksakta atau sains, lebih tepatnya sih matematika. Ia bahkan berjuang keras hingga masuk ke jurusan Matematika di Universitas.
Aku salut dengan keteguhan Ceria yang terus ingin membuktikan bahwa dirinya bisa menjangkau Reina. Ceria yang begitu tangguh bertahan di Jurusan Matematika. Kalau aku paling udah angkat tangan dari awal.
Farhan jadi titik tolak Ceria untuk bangkit dari keterpurukannya. Ia menyadarinya dan segera berubah menjadi dirinya sendiri. Kembali merajut impian yang sebenarnya. Terjun di bidang pariwisata.
Tidak semua orang tua itu punya pola asuh yang buruk. Semua orang tua pasti ingin anaknya menjadi yang tebaik, dan tidak tersesat. Dalam novel ini dijelaskan sekali bahwa orang tua Ceria ingin semua anak-anaknya sukses, namun cara mereka tidak cocok digunakan untuk Ceria dan Farhan. Aku setuju dengan Farhan, meskipun cita-cita dan impian kita ditentang oleh orang tua, teruslah berdiri tegak dan tunjukkan bahwa kita bisa. Tak lupa kita harus janji menerima resikonya. Mama Ceria yang awalnya ingin sekali agar anak-anaknya hidup di dunia eksakta, pada akhirnya luluh pada Ceria.
“Bisa nggak, kamu cukup pikirin apa yang kamu mau dan apa yang kamu impikan? Ini hidup kamu, kamu berhak atas hidup kamu sendiri.” –hlm. 123Akhirnya kita tahu bahwa kita hidup untuk kita sendiri. Semuanya memang perlu keyakinan, keteguhan, dan tanggung jawab dalam meraih cita-cita yang kita inginkan.
Parah sih penulisnya bikin emosi Ceria ngalir sampai aku juga ikut merasakan emosi Ceria yang panas, sakit hati, dan aku mewek sejak awal. Aku jadi ikut-ikutan membenci Reina, padahal Reina nggak salah apa-apa.
“Boleh saja kamu iri dengan kemampuan orang lain, tapi bukan berarti kamu harus menjadi seperti dirinya atau membuat dirinya terihat buruk di mata orang lain. Kita punya kelebihan masing-masing, bersyukurlah.” –hlm. 186Menurutku novel ini ringan, bisa dibaca sekali duduk. Karena sekali baca, kalian nggak akan bisa berhenti. Konfliknya juga nggak melebar kemana-mana, jadi emosinya bener-bener dapet. Pesan yang disampaikan jadi ngena banget, bisa dibuat pelajaran nanti ketika kita yang muda-muda jadi orang tua biar tidak salah mendidik anak.
Sesuai dengan genrenya—YARN, Young Adult Realistic Novel, novel ini sesuai dengan realita yang sering kita jumpai. So, can relate with everyone’s experiences.
Rated: 4/5
Baca: 8-10 April 2020

Tidak ada komentar:
Posting Komentar