Semakin ke sini, detik terus berjalan. Usia juga semakin bertambah. Dulu, waktu itu seperti penanda waktu bermain, waktu belajar, dan waktu tidur. Pula, waktu dimana aku harus bisa kabur dari rumah dan bermain sepuasnya.
Tapi, kini sudah berbeda. Waktu adalah sebuah pengingat, kejar-kejar-kejar. Jangan sampai terbuang sia-sia. Budak waktu. Hingga lupa bahwa berkumpul bersama keluarga itu juga penting.
Semenjak aku menginjak SMA, lima manusia yang bernaung di bawah atap yang sama jarang sekali berkumpul dan bercengkerama. Capek dan segala alasan pun membuat jadwal melenggang ke dalam kamar serta bermain gagdet pun terlaksana lebih awal dari biasanya. Lebih menarik daripada duduk menonton televisi bersama keluarga.
Pentingnya bercengkerama bersama anggota keluarga semakin terasa ketika aku hidup sebagai anak rantau di Surabaya. Hmmm di sana aku merasa sendiri. Tidak ada tempat senyaman keluarga. Mulai di sanalah aku sadar, kebersamaan anggota keluarga adalah obat dari segala rindu. Meski hanya menonton televisi bersama atau makan penyetan bersama, membuat hati ini tenang, tenteram, dan damai. Yaa, meski sering berantem sama adik-adik aku yang sudah besar-besar melebihi besarnya diriku. Hahaha
Kami nggak sering mengadakan family time. Setahun sekali. Itu pun kalau ada uang lebih. Hehehehe
Family time menurut kami nggak perlu mewah-mewah, berkumpul di rumah full team 5 orang—yang terdiri bapak, ibu, aku, dan 2 adikku—sudah merupakan family time yang istimewa. Mengingat kami yang jarang di rumah karena anak bapak dan ibu sudah besar-besar, yang satu kuliah di luar kota, yang satu kerja, yang satu sibuk kegiatan sekolah. Ketika aku pulang kampung pun, belum tentu kami bisa duduk bersama menyantap hidangan bersama. Jadi, berkumpul bersama itu agak susah. Tapi, sekali bisa kumpul alhamdulillah ada aja cerita yang terbagi.
Alhamdulillah, Desember 2018 bapak dapat rezeki. Anak-anak bapak dan ibu, bisa meluangkan waktu. Bapak mengajak kami, termasuk Paklek, Bulek, Budhe, ponakan, sepupu, dan kakek-nenek liburan ke Malang. Tujuan utama bukan liburan sih, tapi silaturahmi ke rumah saudara yang ada di Malang. Setidaknya banyak anggota keluarga yang ikut.
Kalau ditilik dari tahun-tahun sebelumnya, Malang adalah agenda tahunan untuk dikunjungi. Tahun 2018 ini, kebetulan banyak anggota keluarga dan saudara yang luang. Jadinya ada agenda lain selain berkunjung ke rumah saudara. Bisa dibilang sih agenda mendadak. Agenda dadakannya adalah berwisata!
Malam hari, 22 Desember 2018, kami berunding enaknya kemana. Nyari tempat wisata yang murah meriah, ramah untuk anak-anak dan lansia. Opsi pertama sih ke Jatim Park I atau Jatim Park III yang baru buka itu, tapi dikarenakan weekend, kemungkinan tiket juga mahal. Mau ke Selecta, sudah bosan. Akhirnya pilihan jatuh ke tempat wisata keluarga paling legendaris. "Taman Rekreasi Sengkaling".
Pertama kali aku ke sini itu waktu aku TK. Masih ingat dengan lekat di ingatan, dahulu waktu reakreasi TK, aku, bapak, adek, dan beberapa orang lainnya ketinggalan rombongan bus. Gara-gara ngantri beli mie instan dalam cup yang lumayan lama itu. Terus aku masih ingat banget, aku mainan ikan di kolam gedhe sama naik perahu-perahuan. Hmmm dan kemarin aku ulang lagi kwkwkwk jadi nostalgia.
Di tempat wisata ini, hanya dengan membayar Rp 25.000,00 per orang kita sudah bisa masuk dan menikmati pemandangan asik dan asri taman wisata ini. Banyak wahana permainannya. Dibagi jadi dua zona, yaitu zona air dan zona permainan.
Nah, zona air nih yang rame banget. Bahkan ada banyak variannya. Kayak makanan ada banyak variannya. Ada yang untuk anak-anak, ada juga yang untuk dewasa. Untuk anak-anak nggak kalah banyak permainan airnya. Ada prosotan, ada waterboomnya juga, pokoknya kalau bawa anak-anak ke sini siap-siap baju ganti. Eits, di sini juga disediakan persewaan baju kok. Tapi lebih aman bawa baju sendiri sih. Nah, ada juga tuh kolam anak yang ada di atas kapal. Seru deh, keponakanku sampai nggak mau mentas alias berhenti main air.
Yang kedua ada zona permainan. Zona permainan nggak kalah menarik dengan yang air-air. Zona permainan nih, zona gue banget. Kwkwkwk soalnya aku anti banget sama yang basah-basahan kalau lagi rekreasi. Seringnya nyari mainan yang kering nggak bikin basah. Ada bom-bom car, 4D, mainan ayunan, mainan anak, patung-patungan, goa, biang lala, ada perahu naga, dan perahu bebek-bebekan. Dan semua fasilitasnya instagramable alias asik dan aesthethic buat foto-foto. Wahana favorit aku nih, nomor satu yang pasti aku masuki yaitu wahana 4D. Film yang diputar asik, kukira bakal seperti rollercoaster gitu ternyata enggak. 4D-nya cerita gitu. Karena bertema luar angkasa, aku jadi exited banget. Selain nonton wahana 4D, aku lanjut main kapal angsa barengan adik-adik aku sama sepupu.
Setiap naik wahana, harus bayar lagi. Ya karena tiket masuknya murah, wajar sih kalau tiap wahana harus bayar lagi. Tapi cukup murah kok. Wahana 4D, hanya bayar Rp 15.000,00 tiap orang. Kalau mau naik kapal angsa yang genjot manual, cukup Rp 25.000,00 untuk satu kapal yang bisa diisi 4 orang dan tentunya sepuasnya.
Pokoknya kalau di sini berlama-lama nggak akan terasa. Nggak akan bosan sama tempat wisata legend di Malang ini. Yang penting jangan lupa bawa makanan dan alas buat piknik.
Dan buat yang suka foto-foto, jangan lupa bawa buku ya! Banyak spot keren buat photoshoot. Aku nyesel banget waktu itu nggak bawa buku.
Tapi kok aku jadi pengin ke Malang lagi, ya? Apa benar Malang itu ngangenin?










Tidak ada komentar:
Posting Komentar