Sabtu, 13 Juni 2020
His Name is Ahmad Alfiansyah Ramadan
"Aaaargghh!"
Pijakanku melayang. Lemas. Jalanku terseok-seok. Pandanganku sedikit buram karena bendungan air mata.
Tangan kiri memegangi perut bagian kiriku, seolah menekan dan menutupi lubang. Agara cairan merah tidak keluar. Sedangkan tangan kananku menuntun tembok. Menjagaku tetap berjalan. Memberiku pijakan.
Tapi, aku harus bertemu dengannya.
Sakit. Meski pisau itu sudah terlepas, masih saja terasa sakit. Sakit itu menjalar ke seluruh tubuh. Pusing dan menyekat tenggorokan. Tidak, tidak. Aku tidak boleh mati sekarang. Aku harus segera menemuinya.
"Mas Alfi!" Aku mencoba berteriak. Tapi, tak terdengar sebuah teriakan. Malah seperti sebuah erangan.
Mataku melihat beberapa orang mendekatiku. Mengulurkan tangannya untuk membantuku tapi aku menolak. Aku ingin Mas Alfi. Sebagian lagi berdiri terdiam. Aku tahu, mereka terkejut.
Kemudian terdengar teriakan-teriakan, "Mas Alfi! Mas Alfi! Afif! Afif itu ... cepet!"
Tatapanku masih lurus ke depan. Mencari sosok malaikatku yang menjelma. Ingin segera mengulurkan tanganku sebelum...
Itu dia! Berjalan setengah berlari ke arahku. Tak sanggup lagi kubendung air mata ini. Kurasakan meleleh, menetes dari garis rahangku, kemudian jatuh seperti air hujan bersama dengan tetesan cairan merah kental di bawah kakiku.
Aku segera mengulurkan tanganku. Berhambur ke pelukan hangatnya. Sehangat pelukan ibu dan ayah yang selalu kurindukan. Kubenamkan kepalaku di bahunya.
"Mas Alfi, aku minta maaf!" seperti bisikan. "Aku minta maaf! Afif minta maaf!"
Masih terdengar teriakan-teriakan. Salah satunya cukup menggelegar di telingaku. Itu suara malaikatku.
Entah bagaimana prosesnya, aku masih mengucapkan kata maaf itu, hingga kusadari aku telah berbaring di kursi mobil dengan kepala terpangku kakak terbaikku.
Wajah itu... Allah, aku minta maaf. Aku minta maaf telah membuatnya khawatir. Membuatnya merasakan ketakutan itu lagi. Aku minta maaf telah membuat malaikatku menangis. Aku minta maaf telah melanggar janji itu. Dan aku minta maaf karena menyimpan semuanya sendiri. Allah...
"Mas Alfi!" suaraku terdengar seperti rintihan. Ingin kusentuh wajah tegas itu, tapi tanganku tak bertenaga. Napasku terengah-engah mengikuti irama jantung.
Aku ... harus bohong lagi. Aku harus merahasiakannya sendiri. Ini bukan perbuatan nakalku. Tapi, aku tak boleh menyebut pelakunya. Semua akan terenggut dariku bila Mas Alfi tahu faktanya.
"Sssstt! Istighfar, Adek!" Ia menuntunku istighfar. Tangan kanannya mengusap lembut rambut di ubun-ubun. Membelaiku. Air matanya menetes ke kulit kepalaku. Sensasinya menjalar ke hatiku. Sakit.
Allah, ini bukan waktuku, kan? Bukan ajalku, kan? Aku masih ingin di sampingnya. Menjaga janji kita. Menjaga cita-cita kita. Ia bilang, ia hidup karenaku.
Aku tahu. Aku berharga untuknya. Ia juga sama berharganya bagiku. Ia matahariku, bulanku, bumiku, bapakku, ibuku, cinta pertamaku, segalaku. Hanya ia yang kumiliki sekarang. Dan aku membuatnya menangis.
Kuremas tangan kirinya yang membalut tangan kananku. Memberikan sisa kekuatan. Memberitahunya, aku ingin tetap hidup. Membangun cita-cita kita.
Ia mencium keningku. "Semangat! Bertahanlah!"
His name is Ahmad Alfiansyah Ramadan. Kakakku, segalaku.
Mojokerto, 13-05-2019
#OWOBJatim_Day07
#OWOBJatimmenulisramadhan2019
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar