Aku, Rezeki, dan Kopi
oleh: Nur Afifah
Ngiii…
Suara ceret air mendidih membuyarkan jempolku yang mengetuk-ketuk tombol datar di layar gawai. Ada obrolan menarik di grup WhatsApp kelas. Sedang kangen-kangenan, mbanyol, tim paparazzi kelas membagi foto lucu, hingga membahas tentang perguruan tinggi. Ada yang sudah diterima universitas melalui SNMPTN, hingga yang masih sibuk belajar menjelang SBMPTN.
Aku?
Syukur alhamdulillah, aku diterima di universitas negeri melalui SNMPTN jalur bidikmisi.
Suara mengucur menguapkan aroma kopi. Setelah air panasnya cukup, tanganku dengan gesit meraih sendok kecil yang ada di dalam gelas kecil berisi air.
Tek tek tek tek
Satu, dua, tiga, empat …
Aku biasa menghitung jumlah adukanku. Sebanyak tiga tiga putaran. Tidak ada maksud apa-apa, hanya supaya gulanya larut. Aku pun ikut larut. Melarutkan pikiran dalam gerakan memutar air hitam.
Kopi. Ya, kopi. Yang selama ini membiayai hidupku. Hingga aku bisa sekolah setinggi ini. Memang mustahil, namun faktanya bapak bisa menyekolahkan ketiga buah hati tanpa berhutang. Menjadikanku lebih dalam mencintai kopi. Doa dan kerja keras bapak terkenang dalam wujud kopi ini. Semoga kopi juga bisa membawa kebaikan dan rezeki padaku. Jodoh misalnya.
Tiga tiga. Aku mengangkat sendok kecil.
“Mbak!”
Tepat ketika aku mengangkat lepek, seseorang hampir seperti berteriak dari luar sekat ruangan membuatku menoleh cepat.
“Ti!” panggilnya lagi.
Mengukur tingginya dengan pandangan, sekilas aku tidak percaya. Melihat gaya rambut, wajahnya, dan garis-garis rahangnya membuatku hampir menjerit. Dia? Kok bisa?
“Kopi hitam satu, ya!” Sudut bibirnya terangkat.
Aku menahan virus senyumnya yang menular. Masih tetap sama sejak SMP.
“Sekalian sama yang bikin kopinya, Sakti. Lagi butuh teman ngobrol.”
Alhamdulillah, Rezeki.
Mojokerto, 2 Februari 2019
Nuber OWOB Reg Jatim


Tidak ada komentar:
Posting Komentar